Monday, November 8, 2010

BELAJAR MENGENAL HURUF

seorang bocah nyaris gundul sedang menyusun puzzle huruf sambil sesekali pamer pengetahuan kepada ibunya. "C'est M. C'est D comme Dinosaur". Dia sudah hafal semua huruf besar dan kecil. Padahal dia baru berumur 3 tahun 4 bulan dan disekolahnya yang baru berlangsung 2.5 bulan mereka baru belajar mengenal warna.

Apakah sang ibu bangga?

Tentu. Dipandanginya anaknya itu, diputar putarnya puzzle huruf "lihat ini W. Dibalik jadi M. Huruf itu lucu ya?". Kemudian mereka tertawa-tawa. Di dalam hati ibunya tumbuh bunga yang harumnya melebarkan senyum dan mengemerlapkan pancaran mata. Saat seperti ini tidak pernah di duganya. Sekitar 4 bulan yang lalu si ibu sempat cemas karena sang anak termasuk sangat pendiam, kosakatanya cuma satu dua, sangat terbelakang dari anak anak lain seusia. Dia tahu mungkin karena anak lelaki bicara lebih lambat, mungkin ditambah bahasa yang dipelajarinya juga dua. Tapi orang tua ya orang tua, selalu saja kuatir soal anaknya.

Apakah si ibu jenis manusia ambisius?

Mungkin, sedikit, tapi sepertinya jauh dari Terlalu. Dulu, dia tahu banyak orang tua obsesi mengajarkan anaknya baca tulis sedini mungkin. para guru TK di Indonesia seperti terbebani tugas yang seharusnya masih belum tentu dapat dipenuhi laju kognisi anak, seakan lupa bahwa setiap anak adalah berbeda. Setiap anak layak mendapat penerimaan yang utuh. Seleksi SD mengharuskan anak sudah bisa baca dan tulis, bahkan menghitung. Dia pernah bersumpah tidak akan memaksa anaknya, apalagi mendidiknya terlalu keras sehingga dalam bayangnya, tindakan ini akan melahirkan generasi ambisius dan gampang tertekan.

Jadi, huruf-huruf pun terkenalkan secara tidak sengaja. Anaknya dulu suka sekali menganggunya saat di depan komputer, akhirnya dibelikan komputer untuk anak kecil: Genius Malice bikinan V-tech. Sekedar supaya bisa nge-blog dan fb... Selama berbulan-bulan mainan itu diabaikan sang anak, sampai suatu kali, yaitu 2 bulan yang lalu, dia mulai mengandrunginya. Jenis perhatian si anak memang cukup panjang. Saat umur 18 bulan dia bisa berkonsentrasi 20-30 menit menyusun mobil dalam berbagai bentuk garis, lurus , melengkung. Ini pun ternyata dia kerajingan. Bangun tidur "Lettre. Lettre!" (huruf. huruf). pulang sekolah juga langsung nangkring di depan komputernya itu. Dan ternyata komputernya punya metode yang bagus dalam mengajarkan huruf. Plus dibelikan puzzle satu, dikasih teman satu, lengkaplah segala permainan huruf. Si anak juga pernah ngambek minta dibelikan buku yang ada stiker hurufnya saat dibawa mami papi ke toko majalah. Oia, si mami papi juga jadi bangga dan mulai memuji anaknya karena telah membuat cucu mereka terlihat maju.

Lalu kecemasan si ibu hilang dengan adanya kemajuan ini?

Belum. Dia tanya ke gurunya di sekolah, apakah "terlalu cepat" tidak memiliki efek samping pada perkembangan anak? Dijawab, tidak dan lanjutkan. kemudian si ibu bilang kalau dia mulai melanjutkan dengan menyambungkan huruf huruf itu, lalu si guru berkata lantang "Jangan. itu masih 1.5 tahun atau 2 tahun lagi". Hahaha ternyata memang ribet jadi orang tua!

Akhirnya?

Si ibu mengaku kalau itu adalah saya. Dan si bocah itu adalah Matheo.

Selanjutnya, setiap kali saya memandang anak saya, kebanggaan yang hadir saya coba rekam sebaik-baiknya, di ingatan saya yang terdalam dan terlama, sehingga kelak, bila anak saya suatu saat nanti sedang berada dalam roda yang bawah, saya tetap dapat memandangnya dengan bangga. Sampai kapan pun dalam kondisi apa pun. Je t'adore!

2 comments:

Anonymous said...

:)
Iya Wun, jaman skarang ditengah2 persaingan ketat dan susahnya hidup, kita orang tua terlalu keras sama diri kita sendiri ya?
Anak pinter, brarti orang tua sukses ngedidik.
Anak ada masalah, kita gagal, gak becus ngebesarin.
Padahal yg dibutuh cuman 1. Anak minta dicintai dan diterima apa adanya. Di umur berapapun, bahkan udah bangkotan misalnya umur 50 tahun sekalipun g rasa (kalo orang tuanya masih hidup)
Anna - Lola.

Wun said...

setuju Na. padahal orang tua kayak apa, seringkali anaknya kl sudah besar toh nggak selalu berhubungan dgn pendidikan ortu. mis ada anak yang ortunya baik dan perhatian, anaknya tukang bankang, ada dari keluarga berantakan, anaknya malah manis manis aja. kl gue, sbg ortu, gue cuma perlu merasa yg terbaik buat dia, dia nanti kayak apa, justru gue nggak harus banyak bermimpi ini itu