MENULIS HAL TABU adalah sesuatu YANG TIDAK TABU.
Setuju dengan pendapat Mbak Ayu Utami dan Mas Stephen King, dalam menulis tidak ada batasan. Yang paling berperan yaitu gimana cara menulisnya.
Dari jenis ragam tulisan, sebetulnya fiksi sudah punya keuntungan dibanding non fiksi yang sering dianggap sebagai pembelajaran atau kenyataan. Misalnya di non fiksi, pernah ribut karena satu buku yang isinya ada tentang tidak perlu ragu bila ingin berhubungan seks sebelum menikah karena itu dorongan yang wajar. Wow. Wow.Wow. Dalam buku non fiksi, hal ini langsung dianggap sebagai pemberian saran yang bertentangan dengan norma dan akhirnya adalah sesuatu yang dicap menyesatkan.
Nah, dalam fiksi. Secara garis besar saja sudah merupakan tulisan yang didasarkan imajinasi. Meskipun ada berdasarkan kisah nyata, tetap saja kita akan bertanya: apa seluruhnya adalah kisah nyata? . Jadi non fiksi sendiri sudah dianggap sesuatu yang belum tentu nyata. Artinya, belum tentu yang tertulis di situ bisa dibahas berdasarkan aturan dan norma kehidupan sehari-hari. Dari segi penulisan pun, kita punya banyak senjata, mulai dari karakter sampa detil cerita.
Memanfaatkan kelebihan itu, kita bisa bebas memainkan tulisan untuk membahas yang tabu. Bila diamati, fiksi sastra memiliki satu senjata yang sangat kuat: seni. Sama seperti lukisan. Gambar telanjang kalau dianggap seni, menjadi tidak bisa dikritik. Cermati deh, karya fiksi sastra, banyak yang jorok-jorok. Adegannya kalau diambil satu dua paragraf saja malah kayak stensilan. Misalnya saja tulisan Mbak Ayu Utami, Djenar Mahesa dsb. Atau kalau ditarik ke jaman yang lebih lampau, punyanya Remi Silado, Soal geisha, beneran ada adegan 'begituannya'. Tapi kenapa dimaafkan pembaca? Karena ya masuk sastra itu. Gimana supaya masuk sastra? Kosa katanya bikin yang cantik, bikin orang terbang-terbang dan nggak ingat lagi untuk memadankan adegan itu dengan alam nyata. Tak jarang juga dicampur dengan konteks kesenian, masukin puisi, pantun, bagian dongeng-dongeng. Dijamin aman :-D
Nah, kalau yang kemampuan sastranya nggak mumpuni gimana? Beberapa trik yang saya pakai dalam novel Segenggam Daun di Tepi La Seine, yang ngomongin keterbukaan. Setting di situ kan ada yang lumayan tabu tuh, pantai nudis dan swing club. Ini yang saya lakukan:
- Membuka diri bahwa itu bukan pengalaman nyata. Untungnya memang ini bukan pengalaman nyata saya karena sayanya penakut. Bisa tulis di Behind the Scene. Dicampur dengan ucapan terimakasih. Kelihatan alami deh! Hehe. (Kelihatan bahwa ini cukup berperan bila melihat dari review blogger yang ada)
- Nuansanya dibikin pasif. Segala yang tabu akan lebih bisa diterima pembaca bila dirasa sebagai pelaporan, macam tulisan jurnalis (Jakarta undercover buktinya). Memang kejadian yang ada di situ dan deskripsi tempat musti ada, dicampur dalam jalan cerita. Nah, kepasifan mulai dipikirkan melalui jalan cerita itu sendiri. Seperti kondisi itu terberi dan tidak ada pilihan lain. Cara yang menuntun logika pembaca. Misalnya ide ke pantai nudis dibuat sebagai ide yang jenius karena merupakan cara yang paling total menikmati cuaca yang cerah.
- Buat seimbang antara yang tabu dengan tidak. Bila tema sudah tabu, adegannya batasi jangan sampai 'over'. Jadi seperti di swingclub, justru adegan seksnya malah dibuat blur. Pembaca diberi imaginasi tetapi nggak sampai kelewatan.
- Yang paling penting adalah Karakter tokoh. Mulai dari tokoh utama, pilih karakternya yang seolah bisa 'menetralisir' detil tabu tersebut. Dalam novel Segenggam Daun, tokoh utama si Ajeng sengaja dibuat pasif. Ini untuk mendukung unsur pelaporan. Pembaca yang sebagian besar perempuan, diperkirakan akan masuk menjadi Ajeng saat membaca novel, maka dia akan nyaman bila dibuat tidak melanggar norma masyarakat yang dianutnya. Oleh sebab itu, Ajeng dibuat punya rasa ingin tahu yang tinggi tapi sebenarnya pemalu dan pasif. Di pantai nudis, dia dibuat riskan dengan kondisi telanjang. Di swing club, dia dibuat terkejut-kejut. Bayangkan kalau tokoh Ajeng memiliki karakter yang enjoy dengan semua itu. Pembaca sepertinya bakal protes: kok ada sih perempuan Indonesia hobi ganti-ganti pasangan gitu? Nakal banget ni orang dsb dsb dsb. Tokoh utama mesum, buku akan dinilai mesum. Bubar jalan semuanya.
- Tokoh-tokoh yang aktif dalam aktifitas tabu tersebut, bisa dicari celah supaya di"maafkan" pembaca. Salah satu yang bisa dilakukan adalah dengan mengambarkan latar belakang pribadinya kenapa begitu. Jadi ada unsur "terberi" dan "korban" situasi. Pembaca mudah jatuh hati dengan tokoh yang tak berdaya. Elisabeth dalam seri Milenium, dimaafkan jadi kejam karena korban kekerasan bapaknya. Nah, Alain dan Fina digambarkan hasil dari pola keluarga mereka dulu. Alain dari keluarga yang bebas. Sedang Fina dari keluarga yang menderita karena poligami.
Demikian yang bisa saya sharing saat ini. Bila melihat tingkat keribetannya, mungkin akan ada yang berkomentar untuk lebih baik mencari topik yang aman. Jangan lupakan, bahwa justru hal yang tabu itu menarik perhatian banyak orang. Dorongan ingin tahu itu sesuatu yang manusiawi. Jadi biarpun malu-malu, orang punya kecenderungan tertarik dengan hal yang terlarang. Sixty Shades of Grey deh thu contohnya. Juga dari segi marketing, yang namanya differensiasi.
Terlepas dari situ, memang saya suka dengan topik tabu. Seru saja. Kalau berhasil menyiasatinya, bikin rasa puas banget.
Selamat mencoba!
# on projek, mau ngomongin tema agama di novel berikutnya. Atheis versus agamais. Eng ing eng #
Thursday, September 17, 2015
Friday, August 21, 2015
Beda Nulis sebagai hobi dan Buku
Menulis itu hobi. Buku itu industri.
Menulis dan menerbitkan buku sering kali dianggap sebagai satu garis lurus dan sebuah kesatuan. Bisa punya buku dengan nama tercantum di cover merupakan puncak dari pengakuan kemampuan menulis. Tetapi apakah titik tertinggi itu tidak mengdung konsekuensi? Saya bilang ada. Paling tidak kerena buku terkait dengan penerbit. Yang lalu terhubung dengan kuota penjualan buku. Iya, sebagai penulis kita harus jualan. Wich is nggak bisa lagi sekedar menganggap menulis sebagai hobi tetapi lebih dari itu. Saat omset berbicara, kita nggak bisa seenaknya ngumpet pacaran dengan keyboard huruf-huruf. Kalau sekedar hobi nulis, kita bisa pacaran dengan diri sendiri, tapi kalau sudah ada tumpukan buku di toko berarti kita harus maju. Ini industri. Kita musti muncul.
Maka di situlah saya berada. Create page sambil nyolek-nyolek kontak untuk nge-like. Bikin account Facebook baru yang lebih fokus duniat tulis. Sambil menjaring network juga bisa disapa yang mau kenalan. Twitter, ah ini masih pe-er. Saya nggak suka site ini yang membatasi banyak kebawelan yang bisa ditulis. Dan tentu saja, kalau penerbit mendukung, kita bisa PROMO BUKU.
Novel Segenggam Daun di Tepi La Seine adalah tempat saya berjuang untuk muncul. Exist is a must! Snif... Entah percaya apa nggak, saya sebenarnya lebih senang ngumpet. Nulis di blog ini diam-diam. Nulis sebagai moment kontemplasi. But anyway, saya dulu juga orang marketing. Di buku terdahulu, saya masih jadi diri sendiri. Ngumpet dan hasilnya no network. Sampai satu titik, kok sepertinya saya kurang bersyukur dengan pencapaian itu. Membuat saya sadar, bahwa titel penulis itu adalah pekerjaan. Saya musti memperlakukan diri sebagai penjual. Memarketingkan diri karena buku itu industri.
Lagipula, Novel Segenggam Daun di Tepi La Seine terbit ketika saya mudik yang dua tahun sekali. Masak sih saya nggak memanfaatkan kesempatan itu untuk merayakan hasil keras sebuah naskah yang saya tulis hampir setahun lamanya? Belum lagi proses edit sampai terbit. Nyatanya, saya girang luar biasa saat lihat buku saya bertumpuk-tumpuk di toko buku besar. Dan Promosi ini masih berlanjut. Dimulai dengan Book launching, Siaran di radio, Give away dan i dont know apa lagi yang bisa saya lakukan... Menyebarkan tanda tangan? Hihi.. yang ini saya masih sering ketawa geli. Gimana nggak... dulu kuliah saja malah maunya bisa titip tanda tangan kok ya. Sekarang, sok selebritis ;-P Promo pertama Book launching tentu saja bisa terjadi bila didukung penerbit. Gramedia Pustaka Utama memiliki divisi yang cukup spesifik dan profesional. Mereka yang handle dealing dengan venue, keluar duit untuk snack dan nyiapin atribut promosi di tempat. Sebagai penulis, kita cukup menyediakan MC saja dan beli buku sendiri sebanyak 100 buah. It's not dificult. Buku itu toh bisa kita jual direct.
Here we go... dimulai dengan menyebarkan undangan
Acaranya. Syukurnya lumayan meriah! Undangan pada datang dan full :-D Saya malah lebih cenderung happy bisa melihat kumpulan teman-teman dan kerabat yang dekat dengan saya. Acara diisi dengan presentasi buku dan kuis ( yes, saya nolak acara yang isinya hanya bla-bla dari satu arah) Kuis berhadiah souvenir kecil yang saya tenteng dari Paris. Orang Gramedia bilang acara ini termasuk sukses dengan penjualan yang lumayan. Tuh kan penjualan lagi ujungnya haha
Beberapa pengunjung yang kelihatanya ambil foto. Berasa gimana gitu....
Promo berikutnya berlanjut beberapa hari setelah itu. Gramedia punya kerjasama dengan radio. Sindo Trijaya yang memiliki channel di seluruh Indonesia memawancara saya dalam siaran Penulis Bicara. Tanggapan dari orang-orang yang saya kenal lumayan mengejutkan. Ada yang ngomel karena saya muncul ketika dia lagi cari lagu di dalam mobil di tengah kemacetan. Malah ada juga yang bikin rekaman yang lalu di share di group whatsap. Actualy, i feel it's not that bad to play like a star wkwk. Saya dibikin suprise dengan perhatian yang besar dari kiri kanan yang tidak saya prediksi sebelumnya.
Setelah ini, saya kerjasama dengan seorang pengerak blog mengadakan program Give Away. Para pengejar 'buntelan' , istilah mereka mengejar buku gratis dimaksudkan membuat 'sound' di kalangan penikmat kata. Yah, asik melihat reaksi para peserta atas pertanyaan yang diajukan. Yuks ikutan! Masih berlangsung tuh! sd 22 Sept. Intip Facebook saya deh!
Sementara sekian dulu. Intinya: suka nulis adalah hal yang esensial tetapi kalau sudah melangkah sampai penerbitan, kamu harus siap muncul. Bagi saya, popularitas bukan tujuan utama, melainkan bonus saja. (Untungnya saya jauh dari tenar hihi) . Yang perlu diingat bahwa kita harus terus mawas diri karena di atas langit, masih ada langit. Show yourself like a cofee: at the rigth time with the rigth dose.
Menulis dan menerbitkan buku sering kali dianggap sebagai satu garis lurus dan sebuah kesatuan. Bisa punya buku dengan nama tercantum di cover merupakan puncak dari pengakuan kemampuan menulis. Tetapi apakah titik tertinggi itu tidak mengdung konsekuensi? Saya bilang ada. Paling tidak kerena buku terkait dengan penerbit. Yang lalu terhubung dengan kuota penjualan buku. Iya, sebagai penulis kita harus jualan. Wich is nggak bisa lagi sekedar menganggap menulis sebagai hobi tetapi lebih dari itu. Saat omset berbicara, kita nggak bisa seenaknya ngumpet pacaran dengan keyboard huruf-huruf. Kalau sekedar hobi nulis, kita bisa pacaran dengan diri sendiri, tapi kalau sudah ada tumpukan buku di toko berarti kita harus maju. Ini industri. Kita musti muncul.
Maka di situlah saya berada. Create page sambil nyolek-nyolek kontak untuk nge-like. Bikin account Facebook baru yang lebih fokus duniat tulis. Sambil menjaring network juga bisa disapa yang mau kenalan. Twitter, ah ini masih pe-er. Saya nggak suka site ini yang membatasi banyak kebawelan yang bisa ditulis. Dan tentu saja, kalau penerbit mendukung, kita bisa PROMO BUKU.
Novel Segenggam Daun di Tepi La Seine adalah tempat saya berjuang untuk muncul. Exist is a must! Snif... Entah percaya apa nggak, saya sebenarnya lebih senang ngumpet. Nulis di blog ini diam-diam. Nulis sebagai moment kontemplasi. But anyway, saya dulu juga orang marketing. Di buku terdahulu, saya masih jadi diri sendiri. Ngumpet dan hasilnya no network. Sampai satu titik, kok sepertinya saya kurang bersyukur dengan pencapaian itu. Membuat saya sadar, bahwa titel penulis itu adalah pekerjaan. Saya musti memperlakukan diri sebagai penjual. Memarketingkan diri karena buku itu industri.
Lagipula, Novel Segenggam Daun di Tepi La Seine terbit ketika saya mudik yang dua tahun sekali. Masak sih saya nggak memanfaatkan kesempatan itu untuk merayakan hasil keras sebuah naskah yang saya tulis hampir setahun lamanya? Belum lagi proses edit sampai terbit. Nyatanya, saya girang luar biasa saat lihat buku saya bertumpuk-tumpuk di toko buku besar. Dan Promosi ini masih berlanjut. Dimulai dengan Book launching, Siaran di radio, Give away dan i dont know apa lagi yang bisa saya lakukan... Menyebarkan tanda tangan? Hihi.. yang ini saya masih sering ketawa geli. Gimana nggak... dulu kuliah saja malah maunya bisa titip tanda tangan kok ya. Sekarang, sok selebritis ;-P Promo pertama Book launching tentu saja bisa terjadi bila didukung penerbit. Gramedia Pustaka Utama memiliki divisi yang cukup spesifik dan profesional. Mereka yang handle dealing dengan venue, keluar duit untuk snack dan nyiapin atribut promosi di tempat. Sebagai penulis, kita cukup menyediakan MC saja dan beli buku sendiri sebanyak 100 buah. It's not dificult. Buku itu toh bisa kita jual direct.
Here we go... dimulai dengan menyebarkan undangan
Acaranya. Syukurnya lumayan meriah! Undangan pada datang dan full :-D Saya malah lebih cenderung happy bisa melihat kumpulan teman-teman dan kerabat yang dekat dengan saya. Acara diisi dengan presentasi buku dan kuis ( yes, saya nolak acara yang isinya hanya bla-bla dari satu arah) Kuis berhadiah souvenir kecil yang saya tenteng dari Paris. Orang Gramedia bilang acara ini termasuk sukses dengan penjualan yang lumayan. Tuh kan penjualan lagi ujungnya haha
Sementara sekian dulu. Intinya: suka nulis adalah hal yang esensial tetapi kalau sudah melangkah sampai penerbitan, kamu harus siap muncul. Bagi saya, popularitas bukan tujuan utama, melainkan bonus saja. (Untungnya saya jauh dari tenar hihi) . Yang perlu diingat bahwa kita harus terus mawas diri karena di atas langit, masih ada langit. Show yourself like a cofee: at the rigth time with the rigth dose.
Thursday, June 18, 2015
Serge Atlaoui, Anggun dan Hukuman Mati
"Itu Anggun kenapa ya? Cari sensasi atau apa ya?"
"Ngomong-ngomong, kamu jangan ikutan Anggun ya, belain pengedar narkotik".
"Mukanya saja sudah kayak begini. Cocok Serge dihukum mati"
"Hukuman mati bukan pilihan yang terbaik. Sama saja dengan membenarkan pembunuhan."
Dan sebagainya
Dan sebagainya
Sosial Media terutama facebook penuh dengan status yang berkaitan dengan penolakan presiden Jokowi atas permintaan pembatalan hukuman mati terhadap Serge Atlaoui, satu warga Prancis yang divonis akibat pengedaran narkoba.

Terus terang, saya bukan jenis orang yang suka berdiskusi apalagi berdebat tentang hal yang serius-serius secara tertulis begini. Apalagi setahu saya, di sosial media, orang-orang kebanyakan gampang panas. Mungkin karena efek tulisan yang nadanya bisa diterjemahkan tergantung orang yang baca. Dan kebetulan saya juga orang yang sering kali nggak suka berpihak. Netral saja gitu. Sementara di situ, tendensinya, orang berkelompok-kelompok. Well, toh saya ada di sosial media.
Tapi karena saya orang Indonesia yang tinggal di Prancis, nggak luput beberapa pertanyaan mampir ke wall saya. Berhubung facebook di masa itu mainstream, jadi saya nulis di sini saja. Lebih bebas, Lebih konsumsi pribadi haha.
Beberapa point, yang menurut saya perlu dicermati dalam kasus ini:
1. Lain rumah, lain aturan. Begitulah Prancis dan Indonesia. Di Prancis, hukuman mati sudah dihapus sejak lama. Dari sekian banyak peraturan, penghapusan hukuman mati termasuk yang populer, bahkan mentri yang mengesahkan dan pencetus ide, sampai sekarang masih sangat terkenal. Selain itu, versi yang beredar sangat berbeda dengan di Indonesia, Di Indonesia Serge dipercaya sebagai pemilik pabrik, sedangkan di Prancis Serge diberitakan sebagai teknisi. Jadi seolah dia adalah korban jebakan yang kemudian malah menanggung hukuman mati. Orang Prancis semakin bersimpati atas pengambaran dirinya yang merupakan kepala keluarga empat orang anak, kelas menengah dan pindah di negara kita karena alasan ekonomi. Berasa banget korbannya gitu.
Ditambah lagi, beredar video tentang proses penjatuhan hukuman mati di Indonesia yang bisa saja salah orang.Kasus Yusman Telaumbanua
https://www.youtube.com/watch?v=1_GZOxAQY-U
versi panjang
https://www.youtube.com/watch?v=41wmN8E4fPk
2. Secara garis besar, saya merasa bahwa hidup kita sangat disetir oleh media.
Di periode yang sama, sebenarnya dunia juga berduka hebat. Ada gempa menimpa Nepal yang merenggut korban lebih dari ribuan orang. Kok bisa sibuk dengan satu orang saja? Ada di Afrika, pembantaian mahasiswa, jeder-jeder-jeder, nyawa 147 orang tak berdosa melayang. Media diam saja. Lalu, bukan merendahkan arti sebuah nyawa, tetapi tidakkah semua itu jauh lebih penting?
3. Persoalan yang dianggap penting di setiap tempat berbeda.
Katakanlah di Prancis, penggunaan narkoba belum menjadi momok. Ada sih, tapi nggak seseram di Indonesia. Persoalan sosial di sini yang lebih mencolok adalah soal teroris yang disebut Jihadist. Atau sekalian tentang politik. Prancis juga sering heboh dengan kasus hilangnya anak. Satu anak hilang, bisa muncul di media selama seminggu.
Saya sendiri pernah jadi saksi momok narkoba di Indonesia khususnya Jakarta. Ketika itu saya sedang magang dalam pendidikan profesi psikolog. Saya tiap hari datang di pusat rehabilitasi ketergantungan narkotika, di daerah Gatot Subroto. Pendidikan anak-anak yang tidur di barak-barak. Kalau malam, pintu ditutup dari luar. Keseharian mereka yang macam kehidupan militer, bangun, upacara dan segala rutinitas wajib. Plus, meski sudah begitu, memprihatinkan karena kebanyakan adalah anak orang kaya dengan orang tua yang nggak semuanya rajin jenguk mereka. So, intinya apa saya share ini? Intinya adalah bahwa problem narkotika di Indonesia, bukan bertitik di pengedar atau pabrik , tapi juga pendidikan dan pengawasan orang tua. Hmm so complicated, no?
4. Nggak usah jadi terfokus kalau yang ngomong adalah Artis.
Mereka itu ahli nyanyi, main film, atau juri-juri lomba tampil tetapi sangat sedikit dari mereka ahli politik, hukum, ekonomi dan sejenisnya. So, why you bother with their opinion? Mereka memang punya pengemar banyak, didengar banyak orang. Donn't let them inject their personal thought for the subject that they don't really understand. Anggun is Anggun. She is not the expert for this kind issue.
"Ngomong-ngomong, kamu jangan ikutan Anggun ya, belain pengedar narkotik".
"Mukanya saja sudah kayak begini. Cocok Serge dihukum mati"
"Hukuman mati bukan pilihan yang terbaik. Sama saja dengan membenarkan pembunuhan."
Dan sebagainya
Dan sebagainya
Sosial Media terutama facebook penuh dengan status yang berkaitan dengan penolakan presiden Jokowi atas permintaan pembatalan hukuman mati terhadap Serge Atlaoui, satu warga Prancis yang divonis akibat pengedaran narkoba.
Terus terang, saya bukan jenis orang yang suka berdiskusi apalagi berdebat tentang hal yang serius-serius secara tertulis begini. Apalagi setahu saya, di sosial media, orang-orang kebanyakan gampang panas. Mungkin karena efek tulisan yang nadanya bisa diterjemahkan tergantung orang yang baca. Dan kebetulan saya juga orang yang sering kali nggak suka berpihak. Netral saja gitu. Sementara di situ, tendensinya, orang berkelompok-kelompok. Well, toh saya ada di sosial media.
Tapi karena saya orang Indonesia yang tinggal di Prancis, nggak luput beberapa pertanyaan mampir ke wall saya. Berhubung facebook di masa itu mainstream, jadi saya nulis di sini saja. Lebih bebas, Lebih konsumsi pribadi haha.
Beberapa point, yang menurut saya perlu dicermati dalam kasus ini:
1. Lain rumah, lain aturan. Begitulah Prancis dan Indonesia. Di Prancis, hukuman mati sudah dihapus sejak lama. Dari sekian banyak peraturan, penghapusan hukuman mati termasuk yang populer, bahkan mentri yang mengesahkan dan pencetus ide, sampai sekarang masih sangat terkenal. Selain itu, versi yang beredar sangat berbeda dengan di Indonesia, Di Indonesia Serge dipercaya sebagai pemilik pabrik, sedangkan di Prancis Serge diberitakan sebagai teknisi. Jadi seolah dia adalah korban jebakan yang kemudian malah menanggung hukuman mati. Orang Prancis semakin bersimpati atas pengambaran dirinya yang merupakan kepala keluarga empat orang anak, kelas menengah dan pindah di negara kita karena alasan ekonomi. Berasa banget korbannya gitu.
Ditambah lagi, beredar video tentang proses penjatuhan hukuman mati di Indonesia yang bisa saja salah orang.Kasus Yusman Telaumbanua
seorang yang dijebak membunuh dengan mafia pengadilan yang merubah umur si terdakwa. Kasus yang kemudian baru ketahuan setelah campur tangan mentri hukum kita. Orang Prancis tambah seram: ini negara kok bisa salah sih cabut nyawa orang? Membuat mereka lupa, bahwa di dunia ini nggak hanya Indonesia yang masih memperlakukan hukuman mati. Ada Malaysia bahkan Amerika.
Ini link kasus tersebut bagi yang belum tahu.https://www.youtube.com/watch?v=1_GZOxAQY-U
versi panjang
https://www.youtube.com/watch?v=41wmN8E4fPk
2. Secara garis besar, saya merasa bahwa hidup kita sangat disetir oleh media.
Di periode yang sama, sebenarnya dunia juga berduka hebat. Ada gempa menimpa Nepal yang merenggut korban lebih dari ribuan orang. Kok bisa sibuk dengan satu orang saja? Ada di Afrika, pembantaian mahasiswa, jeder-jeder-jeder, nyawa 147 orang tak berdosa melayang. Media diam saja. Lalu, bukan merendahkan arti sebuah nyawa, tetapi tidakkah semua itu jauh lebih penting?
3. Persoalan yang dianggap penting di setiap tempat berbeda.
Katakanlah di Prancis, penggunaan narkoba belum menjadi momok. Ada sih, tapi nggak seseram di Indonesia. Persoalan sosial di sini yang lebih mencolok adalah soal teroris yang disebut Jihadist. Atau sekalian tentang politik. Prancis juga sering heboh dengan kasus hilangnya anak. Satu anak hilang, bisa muncul di media selama seminggu.
Saya sendiri pernah jadi saksi momok narkoba di Indonesia khususnya Jakarta. Ketika itu saya sedang magang dalam pendidikan profesi psikolog. Saya tiap hari datang di pusat rehabilitasi ketergantungan narkotika, di daerah Gatot Subroto. Pendidikan anak-anak yang tidur di barak-barak. Kalau malam, pintu ditutup dari luar. Keseharian mereka yang macam kehidupan militer, bangun, upacara dan segala rutinitas wajib. Plus, meski sudah begitu, memprihatinkan karena kebanyakan adalah anak orang kaya dengan orang tua yang nggak semuanya rajin jenguk mereka. So, intinya apa saya share ini? Intinya adalah bahwa problem narkotika di Indonesia, bukan bertitik di pengedar atau pabrik , tapi juga pendidikan dan pengawasan orang tua. Hmm so complicated, no?
4. Nggak usah jadi terfokus kalau yang ngomong adalah Artis.
Mereka itu ahli nyanyi, main film, atau juri-juri lomba tampil tetapi sangat sedikit dari mereka ahli politik, hukum, ekonomi dan sejenisnya. So, why you bother with their opinion? Mereka memang punya pengemar banyak, didengar banyak orang. Donn't let them inject their personal thought for the subject that they don't really understand. Anggun is Anggun. She is not the expert for this kind issue.
Wednesday, December 31, 2014
Hari Ibu
Hari Ibu yang lalu dan setiap akan Hari Ibu.
Setiap pagi di hari ibu, saya menjadi orang yang paling berbahagia. Saya membayangkan anak saya mengucapkan 'Selamat Hari Ibu' dan membanggakan peran saya sebagai seorang ibu. Sekali lagi, itu di pagi hari. Mulai siang, saya merasa narsis karena cuma menyanjung jasa diri sendiri ke anak saya *boleh deh diketawain haha*. Mulalah saya berusaha lebih 'normatif' mikirin ibu saya. Loh kok susah wkwk *emang anak kurang ajar*. Lalu, saya dihajar berbagai flashback: saya nyaris nggak pernah 'dipegang' ibu. Sampai umur 10 thn, saya identik anak bapak dan masa kecil saya habis dengan pembantu atau baby sitter. Saya cuma ingat ibu sebagai orang yang ngejar-ngejar suruh makan yang nggak saya suka macam pizza dan duren.
Lalu orang tua bercerai. Saya diculik bokap. Hiduplah saya dengan ibu tiri, Yang tidak jahat tapi tidak hangat. Bapak saya punya politik yang cukup kejam: kalau kami nggak minta diantear ketemu ibu, dia kasih uang saku lebih. So jaranglah kami sambang. Saya pun jenis anak yang datar perasaan (mungkin kebanyakan denial). Kalau ketemu ibu, saya bingung mo ngomong apa. Tahun-tahun terakhir masa hidup ibu, dia tinggal serumah sama kami. Tapi yang saya ingat, ibu saya lebih sering nyindir karena saya galak nggak bolehin dia makan yang enak-enak. Lah dia kena diabetes akut dan darah tinggi. Saya nggak pernah jadi favorit ibu dan saya nggak pernah beneran ngerasa dekat dengan ibu. Yang pasti, tiap hari ibu, rasanya datar saja. Saya nggak pernah ngucapin apa-apa ke dia. Yah namanya juga anak kurang ajar. Saya cuma sempat takut karena surga di telapak kaki ibu tapi yah waktu itu saya belum kenal gimana kasih pijat refleksi haha.
Lalu hidup terus bergulir. Saya punya anak. Saya yang tomboi jadi ibu. Ketika melahirkan dan nyusuin anak saya, barulah saya dihantam lagi ingatan tentang ibu. Do you how i feel then? It's hurt! Rasanya saya mau bersujud dimakamnya. Mau bilang how i love her and how i feel sorry. But it's too late.. Dia sudah nggak ada. Tapi saya tahu bahwa cinta ibu nggak pernah pupus walau nggak pernah diperlihatkan. Seperti saya mencintai anak saya sendiri. Sejak jadi ibu, begitulah siklus yang selalu saya alami.
Dan setiap sehari setelah hari ibu, saya akan membatin "Happy belated mother's day Mom. You should know that i love you. But i was too stupid to realize that".
Setiap pagi di hari ibu, saya menjadi orang yang paling berbahagia. Saya membayangkan anak saya mengucapkan 'Selamat Hari Ibu' dan membanggakan peran saya sebagai seorang ibu. Sekali lagi, itu di pagi hari. Mulai siang, saya merasa narsis karena cuma menyanjung jasa diri sendiri ke anak saya *boleh deh diketawain haha*. Mulalah saya berusaha lebih 'normatif' mikirin ibu saya. Loh kok susah wkwk *emang anak kurang ajar*. Lalu, saya dihajar berbagai flashback: saya nyaris nggak pernah 'dipegang' ibu. Sampai umur 10 thn, saya identik anak bapak dan masa kecil saya habis dengan pembantu atau baby sitter. Saya cuma ingat ibu sebagai orang yang ngejar-ngejar suruh makan yang nggak saya suka macam pizza dan duren.
Lalu orang tua bercerai. Saya diculik bokap. Hiduplah saya dengan ibu tiri, Yang tidak jahat tapi tidak hangat. Bapak saya punya politik yang cukup kejam: kalau kami nggak minta diantear ketemu ibu, dia kasih uang saku lebih. So jaranglah kami sambang. Saya pun jenis anak yang datar perasaan (mungkin kebanyakan denial). Kalau ketemu ibu, saya bingung mo ngomong apa. Tahun-tahun terakhir masa hidup ibu, dia tinggal serumah sama kami. Tapi yang saya ingat, ibu saya lebih sering nyindir karena saya galak nggak bolehin dia makan yang enak-enak. Lah dia kena diabetes akut dan darah tinggi. Saya nggak pernah jadi favorit ibu dan saya nggak pernah beneran ngerasa dekat dengan ibu. Yang pasti, tiap hari ibu, rasanya datar saja. Saya nggak pernah ngucapin apa-apa ke dia. Yah namanya juga anak kurang ajar. Saya cuma sempat takut karena surga di telapak kaki ibu tapi yah waktu itu saya belum kenal gimana kasih pijat refleksi haha.
Lalu hidup terus bergulir. Saya punya anak. Saya yang tomboi jadi ibu. Ketika melahirkan dan nyusuin anak saya, barulah saya dihantam lagi ingatan tentang ibu. Do you how i feel then? It's hurt! Rasanya saya mau bersujud dimakamnya. Mau bilang how i love her and how i feel sorry. But it's too late.. Dia sudah nggak ada. Tapi saya tahu bahwa cinta ibu nggak pernah pupus walau nggak pernah diperlihatkan. Seperti saya mencintai anak saya sendiri. Sejak jadi ibu, begitulah siklus yang selalu saya alami.
Dan setiap sehari setelah hari ibu, saya akan membatin "Happy belated mother's day Mom. You should know that i love you. But i was too stupid to realize that".
Monday, December 29, 2014
2014 to 2015
This is a dead blog! Tumben ketimpa kangen, intip ini blog. Ya ampiunnn.. posting terakhir tahun 2013 bulan Juli pulak. Sekarang tahun 2014, besok 30 Desember. 1.5 tahun. Intip orang-orang yang pernah berhubungan, mereka pun postingnya paling baru 8 bulan lalu. Yes. Yes. This is a dead blog..
Anyway, anyway.. ngapain aja saya tahun ini? Eh, sebenarnya sayapun tak percaya followernya masih on juga haha. Tapi nggak papa, nulis itu hobi, kalau mau caper ya pakai baju aneh-aneh aja, bakal lebih terasa perhatian sekitarnya. Di jamin pada ngaku nggak kenal kita ;-). So, back to the issue, ngapain aja saya tahun ini?
Wow! Tahun ini tahun padat. Awal tahun nerusin sekolah yang dimulai tahun sebelumnya yaitu: Massage. Pijet maksudnya? Yups! That's my new profession. Diilhami jejak Phoebee.. yang seri Friends *yah ketahuan deh tuanya* . Dulu saya sering disamain dengan dia secara kalo nyelutuk suka nggak nyambung. Tapi dia lucu loh. Kayak saya kalau lagi kelepasan ta'ak di undangan makan malam. Sekarang saya ikut profesinya.
Prosesnya lumayan panjang. Anak sudah sekolah full dan saya hobi keluyuran. Jadi sadar diri ya harus kerja. Makanya milih kerjaan bukan hal mudah. Ini bukan negara kelahiran saya. Ijasah saya di Psikologi adalah basi karena sistemnya beda banget. Ijasah marketing? huu boro-boro, ini negara krisis, nggak kayak Indonesia yang maju jaya. Tiap menit di sini banyak orang miskin baru. Mau jualan apa coba? Peluk kasih sayang, bolehlah.. Terus, malas ih mikirin ke kantor lagi. Kayak dulu gitu.. Ngurusin brand, dari bangun pagi list kerjaan bejibun. Ogah. Mending kerja gampang, kalau urusan kelar, di kepala kelar. Lagian Bahasa Prancis tertulis ngepas. Kalau mau les pun bakal yang mahal dan belum tentu bisa saingan sama lulusan marketing sini yang numpuk. Mungkin juga kelamaan jadi ibu rumah tangga, ambisi ilang. Kebiasaan cuek sama cucian segunung, rumah kotor mulu, jadi ya ngapain punya target. Hidup ini hanya sekali, tak usahlah ngoyo-ngoyo. Kalau dipanggil tanah berkedalaman enam jengkal, ibu direktur sama pembantunya bakal nggak beda nasib. Pilihan makanya jatuh ke kerjaan fisik itu. Eropa beda dengan Asia. Di sini yang penting situ kerja, orang-orang nggak bakal rewel. So nyoba sekolah massage di Jakarta pas mudik, eh senang berasa sedang nari jawa. Keringetan dan bikin orang senang. Kita dibayar dan orangnya bilang "merci-merci pegel saya ilang". Kayaknya juga cocok dengan saya yang bosanan. Kalau massage kita ngarang-ngarang aja gerakannya haha. Yang penting punya basic anatomi. Nah, yang ini saya boleh bangga dong. Pelajaran anatomi saya lulus dengan nilai 15/20. Bahasa Prancis itu, biarpun pilihan ganda :-D jadi sekarang saya 100% Phoebee.
Selain jadi tukang pijat, saya juga tetap tukang nulis. Draft novel solo saya setelah melalui jalan berliku, belok ke kiri, nyaris masuk jurang, ngelewatin sungai berbuaya, dan semua itu tanpa GPS, akhirnya bakal terbit tahun depan. Itu juga kalau nggak ada rintangan lagi. Jangan tanya prosesnya, sama panjangnya dengan cerita pilih kerjaan saya. Ntar pada ketiduran lagi *eh mending ada gitu yang baca wkwk* jadi ya: tahun depan novel saya bakal muncul. Eng ing eng. Settingnya di Paris, tapi yang nggak wajar dong ah. Namanya juga Phoebee: Pantai nudis (yang orangnya pada telanjang semua), kabaret, dan swing club. Tentang cinta juga. Lah gimana, penulisnya kan memang penuh cinta kasih..
Sambil itu, saya juga sibuk ngepalain projek nulis buku soal perkawinan campur sama KKC (Komunitas Kawin Campur) di facebook. Sebagai ketua, tukang pijat ini membawahi 10 orang gitu deh. Mereka itu keren-keren loh. Ada yang dosen, perawat di luar negeri, lulusan master wkwk. Niatnya kasih gambaran buat orang-orang yang ingin tahu kehidupan orang indonesia yang married/berhubungan dengan orang asing. Daripada salah sangka mulu. Misalnya, kami sering dipikir hidup enak, ongkang2 dan anaknya cakep2. Yeh, hidup mana ada yang sempurna. Itulah yang bikin semangat, biarpun buku ini di cover bakal tertulis KKC. Nggak papa deh, yang penting semoga berguna, terutama buat orang yang mau nyebur. Supaya nggak kelelep.
Terus, apa lagi ya.. Matheo yang tadinya sedang lucu-lucunya, sekarang sedang kurus-kurusnya. Dia merupakan satu-satunya anak yang tidak mau memasukkan kepala ke dalam air saat kelasnya ke kolam renang. Selain itu, mayanlah, dia cukup pintar dan anak baik. (kagak kayak mak nya), kalau anak lain berisik, dia sibuk stt stt pake jari tengah. Ini anak kenapa juga begini yaaaa?
Begitu-begitu. ohiya, tante saya yang sudah seperti ibu sendiri meninggal di tahun ini. Herannya perasaan saya kok mati ya. Saya sedih banget, tapi rasanya sekedar lagi mimpi buruk. Mungkin tahun depan kalau lihat makamnya, saya bakal nangis bombay. Semoga aja nggak ada tiang di sekitar situ, nanti malahan joget-joget sambil nangis kan kesannya ikut-ikut bollywood tuh.
Baiklah, SELAMAT TAHUN BARU YA. Semoga pesta kalian meriah. Saya dan keluarga di rumah saja. Malas ngundang orang dan nggak ada juga yang ngundang. Ngenes! Yang penting tahun depan bakal nulis lebih banyak di blog ini, biar nggak dead *ih, nggak nyambung*. Anyway yang terakhir, saya pernah coba bikin blog lain yang bayar, dengan nama cakep wuwunwiati.com. Komersil. Tapi sudah dibikin berbulan-bulan, pakai ilustrator segala, ngedit tulisannya kinclong, eh dua minggu pertama launching katanya website mengandung konten berbahaya. Padahal kliknya aja hampir 850, nggak sampai dua minggu. Itu nasib ya. Sama dengan jemuran segunung. Ya sudah back to here haha. Jadi biar malam tahun baru sepi, tahun depan blog ini nggak sepi. *teteup*
CIAOO 2014! BIENVENUE 2015!
Anyway, anyway.. ngapain aja saya tahun ini? Eh, sebenarnya sayapun tak percaya followernya masih on juga haha. Tapi nggak papa, nulis itu hobi, kalau mau caper ya pakai baju aneh-aneh aja, bakal lebih terasa perhatian sekitarnya. Di jamin pada ngaku nggak kenal kita ;-). So, back to the issue, ngapain aja saya tahun ini?
Wow! Tahun ini tahun padat. Awal tahun nerusin sekolah yang dimulai tahun sebelumnya yaitu: Massage. Pijet maksudnya? Yups! That's my new profession. Diilhami jejak Phoebee.. yang seri Friends *yah ketahuan deh tuanya* . Dulu saya sering disamain dengan dia secara kalo nyelutuk suka nggak nyambung. Tapi dia lucu loh. Kayak saya kalau lagi kelepasan ta'ak di undangan makan malam. Sekarang saya ikut profesinya.
Prosesnya lumayan panjang. Anak sudah sekolah full dan saya hobi keluyuran. Jadi sadar diri ya harus kerja. Makanya milih kerjaan bukan hal mudah. Ini bukan negara kelahiran saya. Ijasah saya di Psikologi adalah basi karena sistemnya beda banget. Ijasah marketing? huu boro-boro, ini negara krisis, nggak kayak Indonesia yang maju jaya. Tiap menit di sini banyak orang miskin baru. Mau jualan apa coba? Peluk kasih sayang, bolehlah.. Terus, malas ih mikirin ke kantor lagi. Kayak dulu gitu.. Ngurusin brand, dari bangun pagi list kerjaan bejibun. Ogah. Mending kerja gampang, kalau urusan kelar, di kepala kelar. Lagian Bahasa Prancis tertulis ngepas. Kalau mau les pun bakal yang mahal dan belum tentu bisa saingan sama lulusan marketing sini yang numpuk. Mungkin juga kelamaan jadi ibu rumah tangga, ambisi ilang. Kebiasaan cuek sama cucian segunung, rumah kotor mulu, jadi ya ngapain punya target. Hidup ini hanya sekali, tak usahlah ngoyo-ngoyo. Kalau dipanggil tanah berkedalaman enam jengkal, ibu direktur sama pembantunya bakal nggak beda nasib. Pilihan makanya jatuh ke kerjaan fisik itu. Eropa beda dengan Asia. Di sini yang penting situ kerja, orang-orang nggak bakal rewel. So nyoba sekolah massage di Jakarta pas mudik, eh senang berasa sedang nari jawa. Keringetan dan bikin orang senang. Kita dibayar dan orangnya bilang "merci-merci pegel saya ilang". Kayaknya juga cocok dengan saya yang bosanan. Kalau massage kita ngarang-ngarang aja gerakannya haha. Yang penting punya basic anatomi. Nah, yang ini saya boleh bangga dong. Pelajaran anatomi saya lulus dengan nilai 15/20. Bahasa Prancis itu, biarpun pilihan ganda :-D jadi sekarang saya 100% Phoebee.
Selain jadi tukang pijat, saya juga tetap tukang nulis. Draft novel solo saya setelah melalui jalan berliku, belok ke kiri, nyaris masuk jurang, ngelewatin sungai berbuaya, dan semua itu tanpa GPS, akhirnya bakal terbit tahun depan. Itu juga kalau nggak ada rintangan lagi. Jangan tanya prosesnya, sama panjangnya dengan cerita pilih kerjaan saya. Ntar pada ketiduran lagi *eh mending ada gitu yang baca wkwk* jadi ya: tahun depan novel saya bakal muncul. Eng ing eng. Settingnya di Paris, tapi yang nggak wajar dong ah. Namanya juga Phoebee: Pantai nudis (yang orangnya pada telanjang semua), kabaret, dan swing club. Tentang cinta juga. Lah gimana, penulisnya kan memang penuh cinta kasih..
Sambil itu, saya juga sibuk ngepalain projek nulis buku soal perkawinan campur sama KKC (Komunitas Kawin Campur) di facebook. Sebagai ketua, tukang pijat ini membawahi 10 orang gitu deh. Mereka itu keren-keren loh. Ada yang dosen, perawat di luar negeri, lulusan master wkwk. Niatnya kasih gambaran buat orang-orang yang ingin tahu kehidupan orang indonesia yang married/berhubungan dengan orang asing. Daripada salah sangka mulu. Misalnya, kami sering dipikir hidup enak, ongkang2 dan anaknya cakep2. Yeh, hidup mana ada yang sempurna. Itulah yang bikin semangat, biarpun buku ini di cover bakal tertulis KKC. Nggak papa deh, yang penting semoga berguna, terutama buat orang yang mau nyebur. Supaya nggak kelelep.
Terus, apa lagi ya.. Matheo yang tadinya sedang lucu-lucunya, sekarang sedang kurus-kurusnya. Dia merupakan satu-satunya anak yang tidak mau memasukkan kepala ke dalam air saat kelasnya ke kolam renang. Selain itu, mayanlah, dia cukup pintar dan anak baik. (kagak kayak mak nya), kalau anak lain berisik, dia sibuk stt stt pake jari tengah. Ini anak kenapa juga begini yaaaa?
Begitu-begitu. ohiya, tante saya yang sudah seperti ibu sendiri meninggal di tahun ini. Herannya perasaan saya kok mati ya. Saya sedih banget, tapi rasanya sekedar lagi mimpi buruk. Mungkin tahun depan kalau lihat makamnya, saya bakal nangis bombay. Semoga aja nggak ada tiang di sekitar situ, nanti malahan joget-joget sambil nangis kan kesannya ikut-ikut bollywood tuh.
Baiklah, SELAMAT TAHUN BARU YA. Semoga pesta kalian meriah. Saya dan keluarga di rumah saja. Malas ngundang orang dan nggak ada juga yang ngundang. Ngenes! Yang penting tahun depan bakal nulis lebih banyak di blog ini, biar nggak dead *ih, nggak nyambung*. Anyway yang terakhir, saya pernah coba bikin blog lain yang bayar, dengan nama cakep wuwunwiati.com. Komersil. Tapi sudah dibikin berbulan-bulan, pakai ilustrator segala, ngedit tulisannya kinclong, eh dua minggu pertama launching katanya website mengandung konten berbahaya. Padahal kliknya aja hampir 850, nggak sampai dua minggu. Itu nasib ya. Sama dengan jemuran segunung. Ya sudah back to here haha. Jadi biar malam tahun baru sepi, tahun depan blog ini nggak sepi. *teteup*
CIAOO 2014! BIENVENUE 2015!
Monday, August 5, 2013
40 Years (Old)
Last 8 July was my 40 years old anniversary. Many people said "life begins at 40". Then i ask myself: begins what?. My husband gave me a t-shirt: it is age of perfection. Then i ask him: realy?. The end of that day, finally i found the rigth answer for me. After one day spending by walking around in Paris just like a tourist: lunch at the resto, ice cream at ile de la cite, bateau mouche, nachos. Simple. Only with my hubby and my son. No such a big party like my 20 or 30. No crowded. But i was happy. Thinking about the fact that my life far away from perfect.. Then i relies that my forty "life begins simplier and more realistic".
Belajar kota kasa sulit
Menginjak 6 tahun, anak saya mulai belajar kosa kata yang sulit. Sebenernya dia belajar terus, tetapi di usia ini, dia terlihat tertarik untuk mengetahui arti-arti kata yang tidak dimengerti. Dia banyak bertanya 'artinya apa?'. Nahhh, ini yang membuat dia menarik untuk dikerjaii. *hehe, emak teladan*
Matheo: sakit perut (pulang dari main di taman).
Papa: masak sih?
Matheo: enggak deng, sakit kepala.
Papa: sakit apa dong yang bener?
Matheo: sakit perut, kepala dan gigi.
Papa: (melihat tampang si anak, nggak terlalu sakit). Mungkin itu karena emosi setelah berhasil manjat tali sampai tinggi. Peut-être c'est l'émotion!
Matheo: Oui. c'est l'émotion! (katanya yakin)
beberapa detik setelahnya.. Matheo: tapi apa itu artinya emotion?
Emak sambil ngebatin 'yeeehhh, kalau nggak tahu, kenapa juga tadi yakin banget gitu haha'
Matheo berhasil gambar hidung orang dengan ada bolongannya segala.
Mama: Papa, lihat dia berhasil bikin gambar orang dengan hidung yang begini.
Matheo: iya tadi belajar di sekolah. aku lihat ada contoh cara bikin hidung.
Mama: hebat. gambarmu berevolusi. (ton dessin est bien evolu)
Matheo: apa itu evolu (c'est qoui evolu)
Mama: evolution
Matheo: c'est qoui?
Mama: (mikir) amelioré (meningkat)
Matheo: c'est quoi amelioré?
Mama: (mikir) tu fait progrés (kamu ber-progres)
Matheo: c'est qoui progrés? (diam bentar, terus ketawa). je plaisance. je sais fait progrés (becanda, gue tahu artinya progres)
Mama. (pake bahasa indonesia) oh tahu ya...
Matheo: (pake bahasa indonesia) bukan bau mama.
Mama sambil ngeloyor: yeeee, tahu bukan bau.. udah ah, capek!
Suatu kali lagi dinner.
Matheo: maman, mau pipis
Mama: terus
Matheo: temenin
Mama: halah, pipis aja minta temenin.
Matheo: parce'que tu es ma maman. Tu dois me suivre partout (soalnya kamu ibuku, jadi musti ngikutin kemana saja)
Mama: si c'est comme ça, je demissione (kalau gitu, aku pensiun saja)
Matheo: (sambil teriak) Ohhh. il faut pas!! (nggak bisa begitu) (setelah itu, mukanya mengendur) mais, c'est qoui demissione?
Mama ketawa. kena dikerjainnn * huhuiii *
Matheo: sakit perut (pulang dari main di taman).
Papa: masak sih?
Matheo: enggak deng, sakit kepala.
Papa: sakit apa dong yang bener?
Matheo: sakit perut, kepala dan gigi.
Papa: (melihat tampang si anak, nggak terlalu sakit). Mungkin itu karena emosi setelah berhasil manjat tali sampai tinggi. Peut-être c'est l'émotion!
Matheo: Oui. c'est l'émotion! (katanya yakin)
beberapa detik setelahnya.. Matheo: tapi apa itu artinya emotion?
Emak sambil ngebatin 'yeeehhh, kalau nggak tahu, kenapa juga tadi yakin banget gitu haha'
Matheo berhasil gambar hidung orang dengan ada bolongannya segala.
Mama: Papa, lihat dia berhasil bikin gambar orang dengan hidung yang begini.
Matheo: iya tadi belajar di sekolah. aku lihat ada contoh cara bikin hidung.
Mama: hebat. gambarmu berevolusi. (ton dessin est bien evolu)
Matheo: apa itu evolu (c'est qoui evolu)
Mama: evolution
Matheo: c'est qoui?
Mama: (mikir) amelioré (meningkat)
Matheo: c'est quoi amelioré?
Mama: (mikir) tu fait progrés (kamu ber-progres)
Matheo: c'est qoui progrés? (diam bentar, terus ketawa). je plaisance. je sais fait progrés (becanda, gue tahu artinya progres)
Mama. (pake bahasa indonesia) oh tahu ya...
Matheo: (pake bahasa indonesia) bukan bau mama.
Mama sambil ngeloyor: yeeee, tahu bukan bau.. udah ah, capek!
Suatu kali lagi dinner.
Matheo: maman, mau pipis
Mama: terus
Matheo: temenin
Mama: halah, pipis aja minta temenin.
Matheo: parce'que tu es ma maman. Tu dois me suivre partout (soalnya kamu ibuku, jadi musti ngikutin kemana saja)
Mama: si c'est comme ça, je demissione (kalau gitu, aku pensiun saja)
Matheo: (sambil teriak) Ohhh. il faut pas!! (nggak bisa begitu) (setelah itu, mukanya mengendur) mais, c'est qoui demissione?
Mama ketawa. kena dikerjainnn * huhuiii *
Subscribe to:
Posts (Atom)






