Tuesday, August 14, 2012

Mengejar SIM - PERMIS DE CONDUIRE

SIM Surat Ijin Mengemudi alias Permis de Conduire ternyata adalah salah satu hal yang mumetnya bisa tujuh turunan. Saya pernah sampai stress panjang yang berakibat kurang tidur, kemudian daya tahan tubuh menurun dan diakhiri oleh kena sakit flu berat berkali-kali. BO! Masak belajar nyetir bisa sampai lebih dari satu tahun! Beneran nggak kepikir pas mengambil projek ini.

Bagi yang sudah pernah menonton Happy Go Lucky, mungkin punya gambaran bagaimana memperoleh SIM di negeri orang kulit putih ini. Jauh banget dari yang di Jakarta. Tahun 1999, saya pernah punya SIM Jakarta hanya karena ditawari oleh calo dengan harga murah. Waktu itu saya sedang menemeni adik saya yang perpanjangan SIM. Si calo itu ternyata malah mengincar saya juga: "Bikin SIM sekalian? Tinggal photo Mbak" "Masak! Nggak ada tes?" "Nggak. Kilat, bahkan nggak pake ngantri" "Berapa?" "300an ribu" "Oh, oke kalo gitu". Sejam kemudian, saya ikuti dia kekiri kanan, kadang menunggu tapi itupun dengan nyaman, plus dikasih air putih. SIM jadi deh! Padahal bisa nyetir juga NGGAK! Bermodal SIM itu, saya sempat kena jatah dikasih mobil APV baru dari kantor. Pokoknya kata SIM di Indonesia bukanlah suatu momok. Itu seperti pilihan, kamu lagi pengen apa: Kartu kredit? SIM? Foto keluarga? dll dll. Nggak pake perjuangan. Nggak pake pembantaian. (meski katanya sekarang beneran harus tes ya?)

Begitu tiba di Prancis, saya tinggal di Paris. Transportasi mudah, metro banyak, bis apalagi dan jalanan yang malah macet. Jadi seperti kebanyakan orang Paris, kami nggak butuh mobil. Nggak butuh nyetir. Lagipula SIM saya itu bukan SIM Internasional. Tapi hidup damai kok, jadi nggak ada masalah kan?

Masalah muncul begitu saya pindah kepinggiran Paris. Disini meski ada RER semacam Kereta jabotabek, angkutan antar kotanya nggak praktis. Misalnya untuk pergi ke pusat pertokoan dikota lain yang jaraknya cuman 6 km, saya harus jalan ke halte bis 22 menit terus si bis cuman datang sejam sekali, itupun suka telat. Kebayangkan... makanya saya butuh SIM. Dan saya mulai mencari-cari wajah calo yang hitam-manis-kejemur-matahari itu.

Lalu, mendaftarlah saya ke auto ecole. Sekolah menyetir. Perburuan SIM dimulai karena si calo tentunya hanya dalam khayalan manusia putus asa.

Premis de Conduite terbagi dalam dua tahap. Setiap tahap masing-masing lagi ceritanya. Mariii kita mulaiiii

1 CODE DE LA ROUTE.

Tahap ini adalah pembelajaran teori. Peraturan lalu lintas di Prancis itu ada untuk ditaati dan bukan disiasati. Pelanggaran tidak akan lolos hanya dengan nyogok polisi, yang ada usaha nyogok malah dijamin masuk penjara. Jadi kita harus hafal luar kepala.

Aturannya juga buanyak. Rambu-rambu yang jumlahnya bejibun. Aturan cek mobil. Sangsi segala pelanggaran. Dan lainnya yang masih dipengaruhi berbagai faktor. misalnya, terdapat beberapa jenis jalanan yang punya maksimal kecepatan tersendiri, itupun masih belum cukup juga, ditambah variasi tergantung cuaca, misalnya jalan tol 130km/jam kalo pas hujan maksimal jadi 110 km/jam, kalo berkabut dan bersalju anjlok batasi 50km/jam. Sampai hal-hal kecil, misalnya kalau mau tol, kamu punya kartu langganan, musti masuk kejalur yang lambangnya tertentu. Semua aturan ini mau nggak mau harus dipelajari karena ada diujian dan pada akhirnya, memang akan diterapkan dijalanan. Ingatan harus dikuras, habis-habisan.

Hambatan utama sih gampang ketebak: bahasa. Seringkali kita kejebak dengan kata BISA dan BOLEH. Kosakatanya juga beberapa nggak pernah saya dengar, seperti Lingkaran, dikeseharian dibilang Ronde point tapi diCode de la route dibilang Sens Giratoire. Pernah ada kata yang saya cari dikamus segede bagongnya Prancis-Indonesia, nggak ketemu juga! Belum lagi sensitifitas kalimat. Saya sendiri sempat puyeng dengan perbedaan:
- Mobil sedang memasuki jalan tol
- Mobil sedang mengarah masuk ke jalan tol.
*£$$$*ù*ù^$* GUBRAK!!

Dalam belajar, selain kemampuan mengingat, kita juga harus menajamkan mata. Persoalan didasarkan foto-foto yang kadang kabur. Misalnya menentukan kapan musti mengunakan lampu jenis apa karena kalau kabut berat beda sama cuma hujan. Saya sempat bingung untuk tahu fotonya itu kabut atau matahari mau tenggelam. Belum lagi kadang, ada sempilan didetail foto sana-sini, contohnya, untuk urusan ngerem mendadak karena didepan ada anjing lewat. nah dispion belakang ada foto kecillllll sepeda motor dibelakang kita, maka tentunya nggak boleh ngerem kuat-kuat. Gitu-gitu deh.

Hambatan lain yang terbesar bagi saya adalah melawan naluri yang suka keras kepala, ngikutinnya logika sendiri aja. Misalnya jalanannya sepi, terus kenapa juga sih nggak boleh nyalip sepeda? Karena ada jalur pembatasnya itu garisnya ngejreng, jadi nggak boleh dilanggar dalam keadaan apapun. Trus misalnya, ada seorang penyebrang jalan, nyelonong gitu aje kayak jalanan punya engkongnya.

Soal: ada penyebrang menyolong dijalanan, nggak liat kiri kanan dulu. Kita musti
A. Terus meluncur, biar saja dia meloncat menyelamatkan diri.
B. Berhenti
C. Berhenti dan Mengklakson.

Saya tahu jawaban berhenti itu logis. Apalagi disini sipejalan kaki itu makhluk fragile jadi salah nggak salah, ya harus berhenti. Tapi boleh dong saya ngeklakson? Jawabnya: kagak boleh karena nggak berguna dan klakson hanya untuk situasi berbahaya. Sementara bagi saya, klakson itu bisa saja untuk peringatan bahwa lain kali orang itu harus sadar bila jalanan itu bukan milik engkongnya. Makanya saya berat banget harus memilih B, berperang dengan kata hati saya yang lebih cenderung C.

Terus, ada kalanya soal yang terlalu spesifik itu justru bikin saya pengen ngakak. Nih ya.
Soal: Bila anda terlalu banyak minum padahal anda membawa mobil. Maka
A. Tetap menyetir karena yakin masih bisa berkonsentrasi B. Tidak menyetir C. Naik taksi
Nah, jawaban sudah pasti nggak. Jadi B. lalu apakah C harus dipilih? kalo logika saya bilang nggak, tapi jawaban harus dipilih yang itu. Problemnya, bagi saja pilihan ini terlalu diktator. Kenapa juga harus naik taksi? kan bisa saja naik bus, kereta atau minta tolong mantan pacar yang kebetulan ikut nongkrong? ya nggak. Tapi logika si soal, menjelaskan bahwa kita harus pilih C krn tidak bisa naik mobil sendiri. Menurut saya, harusnya pilihan itu adalah: Naik kendaraan umum. Meskipun tahu ini bukan pelajaran bahasa yang baik dan benar, tetap saja jiwa saya memberontak...

BREF, Diakhir bulan ke-3 saya lulus tes ini. MENANG! Menang terhadap tes itu dan terhadap penekanan egoisme logika saya. Saya bangganya setengah mati. Dipercobaan tes pertama pula! Padahal ada orang Prancis disebelah saya dalam mobil antaran yang menangis karena tak lulus. Eh, ini bangga atau sadis ya?


2. PRAKTEK MENYETIR
Ditahap ini hambatannya lain lagi.. Nggak seperti tujuan orang menyetir di Indonesia, yaitu "yang penting nyampe". Disini, nyetir selain memang harus tiba ditujuan tetapi cara menyetirnya juga harus Persis-Seperti-Aturan. Disitulah letak kesulitannya.

Teman saya yang terbiasa nyetir lalu lalang ditanah air pun harus mengkoreksi cara nyetirnya yang dinilai terlalu banyak main kopling. apalagi saya yang nggak pernah sedikitpun nyetir (pernah les tapi nggak sampai lulus. Nyodok mobil depan sekali. Bahkan mobil kantorpun, yang setirin adik)? Ho'oh!

Sebelum mulai pelajaran, ada "penilaian pendahuluan". Disitu kita disuruh nyetir langsung mobil, nanti instruktur akan membuat prediksi kita butuh berapa jam belajar. Saya dikasihnya 40 jam karena nggak pernah nyetir, observasi bagus tetapi memori terbang kejurang.

Disekolah nyetir kami, setiap murid punya guru. Instruktur saya seorang perempuan yang sepuluh tahun lebih tua, cukup nyaring kalau bicara. Saya suka (pada awalnya) karena dia blak-blakan. Jadi bila ada miskomunikasi, saya pikir karena kedalaman bahasa kami berbeda.

Diawal, saya belajar mobil manual. Setelah 9 jam, saya menyerah. Kopling buat saya terlalu rumit. Masih saja mobil suka meloncat or berhenti mendadak karena saya tak kunjung bisa menekan dengan kekuatan yang pas.

Libur summer 2 bulan. Kami break dulu. Seluruh orang bilang jangan mau, minta instruktur lain. tapi saya menolak.

Balik belajar lagi bulan September 2011, saya minta ganti mobil metiq saja. Toh dirumah mobilnya metiq. Saya pikir saya akan lulus dengan mudah karena kata teman saya "itu mobil meluncur sendiri kok"

SALAH BESAR.
Disini, persoalannya ya tadi itu. Kita harus menyetir Persis-Seperti-Aturan. Jadi saya kesulitan. Yang pertama, konsentrasi saya yang mengambang-ngambang. Suka ilang-ilangan, jadi hanya untuk memperhatikan rambu dan kendaraan yang lain, saya butuh 8 jam pelajaran. Saya bisa lihat mobil tetapi kesadaran saya bilang mobil itu bom-bom car jadi antisipasinya telat. ngeremnya telatlah, kecepatannya kuranglah dll dll

Lalu begitu bisa konsentrasi, masih belum bener juga. Misalnya hanya karena lupa nengok kearah tertentu. (Nengok itu memang harus bener-bener nengok sampai kepala terlongok kayak ayam kalkun). Buat saya hal itu terlalu rutin. Lalu saya juga punya tendensi jalan ketengah. NGGAK BOLEH! Huh, padahal lagi-lagi nggak ada mobil lain kok. Jalanan kosong. tapi tetep aja.

Okelah, ini bagian kekurangan saya.

Namun, sampai pelajaran ke 35. yaitu sudah menghabiskan: 35 x 52 euros! (Bayangkan betapa bangkrutnya saya!) Instruktur saya masih sering bikin muter dijalan yang itu-itu saja. Akhirnya saya mulai stress. Dan diakhir stress, barulah muncul ide bahwa kemajuan ini diperlambat juga oleh guru saya itu. Selain blak-blakan, ternyata dia juga suka bikin joke yang bikin mental orang ciut. Misalnya: kamu kok nanya mulu sih (ya iyalah namanya juga belajar), yah kita nggak akan lupa pada madam Wuwun yang spesial ini (sialan), hari ini kamu bikin nyawa saya nyaris melayang (krn masuk kejalur pdhal ada truk dibelakang. madam, saya juga dalam bahaya kali, nggak usah teriak-teriak gitu dong). Dan saya bener-bener ciut. Tambah lama, saya lebih takut dia dibanding nyetir itu sendiri. Plus, dia sering korupsi waktu untuk ngerokok dan ngobrol sama temennya.

Akhirnya saya ganti instruktur. Seorang pria tua yang dulunya mungkin gagah. Dia penuh dengan penjelasan. Cocok dengan tipe saya yang suka bertanya ini itu. Suaranya lumayan galak tapi saya sudah berhasil mengeliminasi efek emosinya ditelinga.


3 TES PRAKTEK
Janji kepada teman-teman yg lagi ambil
ini link youtube yg berguna:
http://www.youtube.com/watch?v=bQ9dhh1spAA
http://www.youtube.com/watch?v=kQ6lEC5uqt4&feature=related

Masing-masing nilai: exterieur (2 point) dan Interieur (1 point)
Beberapa tips :
- Yang paling penting: kendalikan stress anda. Gimanapun tes nyetir itu butuh konsentrasi, kalo stress maka bisa rusak. Kalau stress dirasakan sebelum ujian, carilah kata-kata sugesti yang bisa menenangkan misalnya "just do the best, urusan lulus, toh nggak semua org bisa lulus sekali ujian" or "it's about money, lulus nggaknya bukan hukuman mati" dsb.
- Bilang 'bonjour' dan senyum kepenguji. Setiap orang lebih senang diangkat-angkat. ingat, jangan ikut ngobrol kalo penguji dan pendamping kita lagi asik. Manfaatkan itu dengan doa "semoga si penguji nggak lihat pas kita salah"
- Sebelum sampai tempat ujian, boleh aja tanya sama pendamping/instruktur kita sifat-sifat pada penguji yg kira-kira ada. Buat gambaran mana yg sulit dan mana yang cingcai-an.
- Ulang-ulang tes mobil diatas, nilai sudah 3 dari 20 point ditangan. Namun bila tidak berhasil tidak usah cemas, toh presentasinya nggak terlalu besar. Coba kejar dengan 2 point lain. Yaitu kesopanan (kl ada yg nyebrang kasih jalan, kalo ada yg kasih jalan kekita maka lambaikan tangan) dijamin penguji akan terpesona karena kita masih punya waktu ngurusin yg ginian. Point satu lagi yaitu Condruire Ecolo, tenang aja gitu sehingga kecepatan mobil sesuai dengan indikasi jalanan dan keperluan.
- Selama kesalahan yg dikerjakan selama tes bukan yang langsung "gugur" atas kesalahan besar, jangan ciut dulu. Kalo langsung grogi nanti malah kebawa stress, padahal kalo kesalahan2 kecil pada akhirnya tinggal hitungan matematika. Jadi masih ada kesempatan lulus.
- Berdoalah dapat penguji yang cingcai, baik dan bersuara lembutttt.

TETAP SEMANGAT!!!!

Kalo berhasil, senangnya minta ampun !!!!!!!!!!!!!! SUMPEH LHO !!!!!!!!!

Wednesday, January 11, 2012

Penulis Bisa Jadi Gila?

Sepertinya bisa!

Pertengahan november lalu, setelah buku pertama Memburu Fatamorgana diterima oleh Asosiasi Pasar Malam untuk diterbitkan kedalam bahasa Prancis, mood nulis saya langsung meroket. Beneran roket. Cepat, berkekuatan penuh dan nggak bisa dibendung. Jadilah draft buku kedua saya, dan yang pertama bakal solo, kembali berputar dikepala saya. Para tokoh-tokoh yang pernah saya ciptakan muncul, pemikiran tentang alur, cara bertutur dan segala yang berhubungan dengan teknis penulisan serabutan minta tempat dikepala saya yang diameternya nggak seberapa ini. Siang. Malam.

Kalau siang, begitu ada waktu kosong setengah jam saja, saya langsung lari ke notebook. Dan bila sedang tidak memungkinkan, pikiran itu menderu-deru. Gelisah sekali. Setiap nulis memberikan perasaan lega. Betul-betul macam orang yang butuh katarsis. Memasuki minggu kedua, diatas kepala saya seperti terbentuk sebuah bola dunia lengkap dengan berbagai tokoh yang cerewetnya minta ampun. Ajeng, Olivier, Quentin, Alain, Celine etc. Diantara percakapan mereka, kadang seperti ada lintasan narasi yang bilang 'eh mending, bagian ini ditaruh disini. oya, karakter si Ajeng kayaknya nggak cocok jadi impulsif. Nah, soal pantai bugil, belum lengkap tuh penjelasannya' dan berbagai hal detail yang nggak ada habisnya. Saya mulai merasakan sindrom trance atau apa deh gitu, dimana saya kehilangan atas kontrol diri sendiri. Alam berpikir saya diambil alih... Celakanya, semua itu merusak konsentrasi keseharian. Kalau diajak ngomong kadang, suara lawan bicara timbul tengelam. Belum lagi pas lagi pegang setir. Bo! saya lagi ambil pelajaran nyetir yang ongkosnya 53€ perjam!

Kalau malam, sering terbangun dipagi hari dan sulit untuk tidur lagi. Langsung deh, si dunia bulat bundar menguasai saya lagi. Sebagai efek, saya merasakan kebenaran dari cerita Paulo Coelho dalam bukunya Zahir. Dia bilang "Buku itu menulis sendiri, penulis tinggal mengetikkan kata-katanya". Begitulah saya didepan notebook. Rasanya saya nggak perlu mikir lagi, justru seperti melepaskan beban pikiran. Kalau dari efektitas, saya cinta kondisi tripping ini. Kebayang saja, waktu-waktu dimana saya ingin ngetik tapi justru bengong didepan keyboard, sampai-sampai harus mencari pembenaran seperti istilah Writer block or something.. jadi nggak heran, hanya dalam 1.5 bulan, draft saya sudah membengkak lebih dari 100 halaman hvs.

Saya bertanya apakah itu bayaran efektitas menulis sehingga penulis seolah tidak menjejak? Apakah rata-rata penulis seperti itu? Gejala yang saya alami ini normal atau tidak? Suami saya pernah bilang bahwa ada penulis yang bisa rutin nulis setiap hari 2.000 kata (iri sekali saya dengan orang itu!). Lalu, saya juga sempat teringat kata seorang penulis yang bilang, jadi penulis itu beresiko tidak memijak pada dunia realitas. Yang ekstrim, mungkin penulis Ingris Virginia Wolf yang selalu mencoba bunuh diri setiap menulis buku. Dulu, saya heran mengetahui fakta ini. Tapi setelah bulan-bulan itu.. hmm, kalau diteruskan sepertinya masuk akal juga.

Dalam kasus saya, pemecahannya mudah saja: benturan realitas. Akhir Desember, saya disadarkan akan target untuk mengikuti suatu ujian masuk suatu sekolah kejuruan yang saya incar. Bulan Maret ini. Setelah memeriksa bahan ujiannya, ya ampun, banyak sekali yang belum dipelajari! Panik yang melanda mengiring saya untuk memilih realitis dulu. Maka seminggu kemudian adalah masa-masa berat, membunuh dunia bundar diatas kepala. Notebook betul-betul saya simpan dilemari (meski sesekali saya nggak tahan buka juga, tapi biasanya berhenti setelah ditegur suami). Saya harus nyetir dulu, ujian dulu.

Saya belum siap jadi gila. Belum sekarang ini...

Thursday, November 17, 2011

Exposition Louis Vitton & Masa Lalu

24 Juni - 25 Oktober. 60 rue de Bassano, Paris 8è
http://www.espacelouisvuitton-paris.com/index_FR.html
Pameran seni ttg Indonesia yang banyak berkisah soal gunung Semeru.


Pameran ini sebenarnya sudah saya intai beberapa bulan lalu tetapi dgn adanya liburan panjang, jadi terlupakan. Dan kagetlah saya ketika melihat ulasannya di salah satu majalah Express. Apalagi foto yg dipajang di situ adalah karya dari orang yang saya kenal (meski dijamin dia udah nggak kenal saya): Heri Dono or Dono Heri (kalo pake aturan Nom-Prenom ala Prancis). Boneka-boneka bertampang campuran ektrateres dicampur dengan wayang golek, begitu pernah dekat dengan saya.

Gimana nggak dekat? Dulu saya pernah tidur disamping boneka-boneka ajaib itu, pas di suatu masa yang lalu-dulu-banget, saya berkali-kali menginap di rumah Heridono yang ajaib. Setiap anak kecil yang masuk dijamin nangis karena gantungan di plafon adalah dendeng kering dari usus, jeroan dll, plus lukisan, patung dengan gantungan debu yang bergoyang indah kalo ditiup angin. Tidak ada tipi, jamnya mati diangka 7. Katanya angka ini pas, kalo bangun kesiangan belum tengah hari kalo malem nggak larut banget. Sebetulnya, saya bisa disitu karena diajak sahabat saya, yg 'keponakan kesayangan' sang seniman. Penyambutan pertama yg selalu saya ingat adalahi "Lo tidur di kamar yang ini aja Wun, HANTUNYA nggak terlalu ganas. Kalo dikamar lain, lo bisa ditarik-tarik dan dicubit-cubit sampe bangun". Huaa! . Pokoknya "wangi" rumahnya nggak bakal saya lupa.

Sejujurnya, banyak hal yg nggak terlupa. Dimulai dari persohiban saya dengan keponakan emasnya itu, dan kemudian merempet ke gerombolan teman-temannya, yg cuma 5-6 orang saja. Mereka adalah gerombolan manusia yang jiwa nyeninya membuat kita kehilangan antara batas waras dan nggak waras. Misalnya, ada satu orang yang tahan nggak mandi berbulan-bulan krn ngambek nilai ujiannya jelek. Dia bau juga nggak terlalu. Atau yang disebut keren dan fashionable adalah rambut rasta yang kramasnya berminggu-minggu sekali, itupun paling efektif pakai air laut. Dan cerita yg nggak bakal saya lupa, ketika mereka bercerita dengan seru soal perlombaan berbusana yg paling "yahud", dimenangkan oleh seorang yg hari itu, pakai t-shirt, celana jeans. Dari depan normal, tetapi ketika dia berdiri, tyt celana bagian belakang bolong, jd pantatnya bisa kelihatan utuh! atau cerita jendela kampus mereka yang bolong, sehingga saat hujan, ada yg memanfaatkan dgn bercuci muka pakai sabun dr dalam kelas. Dalam keseharian, berada seminggu bersama mereka, merupakan obat yang paling manjur dari segala obat antidepresi. Kami bangun nggak pernah lebih pagi dari jam 9. Salah satu akan beli nasi pucuk, lalu makan di teras, sambil menerawang jauh. Kemudian mandi yg bak airnya jernih (tp didasarnya ada sikat gigi, sabun, dan entah barang-barang apalagi). Kemudian, tidak ada yang rutin. Kadang saya diajak keliling naik motor yang tiap 20 menit mogok dan harus diganti gusi. Kadang hanya belanja kecil ke pasar tradisional. Kadang malas bergerak tapi ingin nyemil, kami memetik daun bayam liar dan mengorengnya dengan tepung. Dan banyak kegiatan lain yang sudah saya lupa, tapi kenangan itu tetap ada: Keindahan dalam kesederhanaan hidup.

--bbrp minggu kemudian: sayang nggak bisa dateng hiks hiks

Thursday, October 6, 2011

Teman Imaginer atau Makhluk halus?

Dimanakah hubungan antara ilmu pengetahuan dan kepercayaan supersitius untuk sebuah fenomena yang sama? Saya bukanlah yang kompeten untuk membahas masalah ini secara detail tetapi saya MERASAKAN pengaruh keduanya. Tarik-tarikan, ngotot-ngototan.

Nah, fenomena keterhubungan dua sudut pandang itu, sedang berlaku pada anak saya. Dia memiliki "seseorang". Saat seorang anak kecil digambarkan bisa melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh mata orang dewasa. Dunia pengetahuan menyebutnya sebagai Teman Imaginer, Imaginary friends or Amie Imaginier. Biasanya terjadi pada anak usia infant s/d 5 tahun dan beberapa yg berlanjut sampai remaja (meski semakin bertambah umur, adanya imaginer friend ini kadang dikaitkan dgn adanya masalah sosial). Sosok ini, begitu nyata bagi pembuatnya, bernyawa dan hidup. Diajak bicara, ditegur, disenyumi, diajak main, disuruh genjot sepeda dan bahkan biasanya mereka punya nama. Kebutuhan atas kehadiran mereka didorong oleh alam imaginasi anak yang sedang meluber. Adanya sosok ini bisa menjadi partner bagi anak, di saat kesepian, disaat sedang tidak percaya diri dan pokoknya bisa membantu mereka memahami dunia orang dewasa. Bahkan ada studi dari seorang mahasiswa master di Manchester University yang menyebutkan bahwa adanya teman imaginer ini justru mempercepat pertumbuhan intelegensi anak, dimana anak mengembangkan kosakata yg tidak dipelajarinya dari teman sepermainan. Meskipun ada ahli yang menyatakan bahwa tidak semua anak pintar punya teman imaginer. Pendeknya, TIDAK ADA yang perlu ditakutkan.

Si Teman ini, dipanggil Matheo sebagai POCOYO. Saya langsung membayangkan sosoknya seperti tokoh kartun lucu imut-imut:

Tetapi, sekali lagi, sisi ke-Indonesiaan saya yang sudah mengakar, secara ngotot, membuat saya teringat pandangan seperti "anak kecil biasanya bisa lihat makhluk halus", "Jiwa mereka murni jd yg bisa lihat cuma mereka" dan lainnya. Intinya, sosok imaginer tersebut berubah menjadi makhluk halus or hantu or setan or badut (sebutan salah satu teman saya setiap kl anaknya ngobrol dgn sosok invisible ini). Dan masalahnya, bagi org dewasa, makhluk halus adalah sosok yg menyeramkan. Saya nggak pernah percaya keberadaannya 100% persen, tp kalau nggak percaya total pun, kita harus pura-pura percaya, kalau tidak mau dikasih 'penampakan'. Jadilah si sosok imut POCOYO BERUBAH MENJADI..


POCONG ! HIIII !

Maka setiap kali Matheo berbicara secara misterius ke arah ruang kosong, tp matanya fokus ke suatu titik. Segala pengetahuan dan kepercayaan primitif saya bergejolak hebat. Sampai suatu h ari (yg untungnya periode Matheo ini cuma 3 mingguan), Kami pulang dari perpustakaan anak, lalu di depan pintu rumah Matheo berkata.

"Mama, ini ada Pocoyo mau main. Bonjour Pocoyo! Kamu mau main ke rumah kan?"
"Halo Pocoyo" Mamanya, sambil jiper tapi berakting sok santai, ikut menegur ke arah kosong yg sama
"Mama, Pocoyo boleh ya ikut kita"
.... Mama .... Perang... Batin... - Ayo kita dorong perkembangan kognitif anak - - Lo mau biarin masuk tuh Pocong? - - Itu bukan pocong, tp teman imaginer - - Iya, Pocong yang namanya Pocoyo - -Pocong nggak ada di Prancis - -Mungkin dia lagi travelling - dsb dsb

.... akhirnya ...

Mama: "Pocoyo, tadi mama kamu bilang kalau kamu musti pulang karena sudah waktunya gouter/ngemil. Ayo sana ya pulang. Lain kali saja"
Matheo : "D'accord. Ya sudah. sana kamu pulang Pocoyo"

Sejak itu, si Pocoyo nggak nongol lagi. Mamanya lega dehhhhhhhhhhhhhhh ! urusan pengembangan anak, kita cari cara lain saja :-D

Tuesday, May 10, 2011

CATATAN MUDIK DI RUMAH

Catatan ini sudah saya buat berbulan lalu, tetapi sempat hilang dan terselip. Sebuah pengalaman selama dua bulan di Indonesia 2010, dalam kerangka pulang kampung dua tahun sekali.

--
Pelaku pertama yang langsung membuat saya sadar di Indonesia adalah Pembantu.

Mereka salah satu yang paling saya rindukan selama tinggal di Prancis. Hidup jadi upik abu itu gimanapun juga berat oi! Tangan kapalan, pundak pegal pegal, otot bermunculan, mah sudah pasti. Tapi disisi lain, kami jadi terbiasa kerja keras. Nah di jakarta ini, sampai di rumah orang tua, saya langsung dikerubuti dua orang pembantu, yg satu membawakan tas, yang lainnya menawari minuman. 'Es teh manis ya' lalu saya duduk. Dan kemudian bapak datang, ngobrol, setengah jam kemudian, masih duduk, dan 2 jam kemudian tetap dalam kondisi duduk. Pembicaraan mulai habis. Saya melihat kiri kanan. Kalau di rumah di Prancis pasti waktu 2 jam itu sudah harus dipakai untuk cuci baju, mengibaskan debu, menyapu dan mungkin memotong bunga mati dikebun. Saya perlahan mulai sadar, oh iya, jadi majikan di Indonesia kan tugasnya memang duduk saja. Kalau bergerak sedikit, para pembantu akan gusar seolah merasa tidak dibutuhkan.

Gila, seharian duduk. Apa sanggup ya? Apa nggak mati bosen nih.
Ohya , nonton tivi. Tapi kalau acaranya nggak enak, duduk juga?
Berbagai tanya jawab berlangsung di kepala saya.

Kemudian waktu makan tiba. Piring sudah disediakan, tinggal menyendok nasi. Hangat pula! Sungguh suatu kemewahan liburan, kalau sehari hari, mana mungkin bisa begini, mau makan ya masak dulu. Mau bubur ayam? Baru siap di mangkok pas rasa lapar udah ngabur jauh jauh.

Selama di meja makan, berbagai drama terjadi: adik saya berteriak minta sendok kecil, bapak saya ribut makanannya kurang hangat, anak saya sibuk mau disuapi. Saya bengong. Sudah nggak terbiasa rupanya. Saat saya berdiri, ada pembantu yang menanyai 'cari apa mbak?' 'ini sendok sayur' 'iya mbak, aku ambilkan' saya mulai senyum, kapan lagi merasa kalau bergerak 10 meter menjadi dosa besar?

Beberapa hari kemudian, saat saya ikut les membuat kue, sang guru pernah berteriak teriak.

« Lita!!! Kesini » begitu berulang selama 7 menit karena sang pembantunya belum muncul juga

'Kemana sih thu orang' omelnya lagi

saya sempat berpikir kalau dia perlu sesuatu yang super penting, seperti minta diangkatkan koper 25 kg misalnya.

Akhirnya saat pembantunya muncul, saya tau alasan misuh misuhnya

'Tolong ambilin air es di kulkas, buat campuran adonan!'

Oalah! Emang bener sih jarak kulkas ke tempat dia duduk beneran krusial: 10 meter!

Gimana kalau dia jadi saya ya, yang hampir tiap hari menghabiskan waktu 30 menit buat jalan, beli roti, kadang ke kantor pos. Lah disini nggak ada pembantu yang tinggal teriak gitu. Padahal, sesungguhnya yang dilakukan teman saya itu hanyalah menghindari dosa besar tadi.

Tapi akhirnya saya sampai pada penemuan paling keren di mudik kali ini: Pembantu juga punya Hierarki!

Yang saya temui (baca: urutan disusun atas derajat kekuasaan):
Kepala pembantu
Pembantu biasa
Pembantu tambahan (ini khusus disediakan untuk menyambut kedatangan saya, kata adik saya yang berbaik hati, supaya anak saya bisa dijaga mereka)

Hierarki ini ternyata beneran berjalan sempurna. Suatu kali saya mengomel karena ada kotoran anjing lupa dibersihkan di lantai

'Desi, ini coba dibersihin dong. Kalau bau banget begini, ntar Matheo ijek bagaimana?' sambil bilang begini, saya sambil tersenyum dalam hati 'hehe here i'am. My old days come back'

'iya mbak, saya pel segera' si Desi bogel tergopoh gopoh seperti baru ketangkap menilap jambu biji tetangga.

Yang terjadi kemudian ternyata adalah si Desi yang jabatan Pembantu biasa ini diomeli mbak Dini yang berpangkat Kepala pembantu 'elo sih Des JOROK!'

Mungkin nggak terima dikata katai tapi kurang kuasaan untuk membalas, dia memanggil si Pembantu tambahan yang masih merupakan saudara jauhnya. Teriakannya lebih keras dari pada teguran saya kepadanya.

'Bii Parmi! Gih pel ini lantai! Panggil sekalian si Entin (anaknya yang suka ikut nongkrong emaknya). Pake ember aja, sama kasih pembersih lantai yang banyak, biar kagak bau! AYO CEPETAN! Jangan diem aje! ELO JUGA NTIN, PLONGAK PLONGOK MELULU!'

Saya yang menyaksikan semua terkikik geli sendiri. Ternyata pembantu di Indonesia ternyata menyimpan potensi menjadi bos. Luar biasa!

Saya langsung membatin, andaikata mereka bisa membayangkan bagaimana hidup saya disini, pasti mereka akan protes dalam hati 'mbak mbak, sama sama pembantu aja pake kasih perintah segala'

Kehidupan kantor yang ada di dalam kehidupan para pembantu, diperkuat dengan obrolan para majikan yang notebene sekarang merupakan sebagaian besar kehidupan para teman saya.

Pembantu gue pada berantem
Pembantu gue iri irian.
Pembantu gue nggak rukun sama supir gue

dan berbagai intrik dasyat lainnya

Sambil hanya bisa mendengarkan dan nggak kuasa nimbrung, saya sekali lagi membatin. Punya pembantu atau jadi pembantu, sama repotnya sama ribetnya

CATATAN MUDIK DI LUAR RUMAH

Catatan ini sudah saya buat berbulan-bulan lalu, tetapi sempat hilang dan terselip. Sebuah pengalaman selama dua bulan di Indonesia 2010, dalam kerangka pulang kampung dua tahun sekali.

--
Saat pulang kampung merupakan masa bernostalgia. Berada dan bernafas di tempat kita dibesarkan. Pelepas rindu semua hal yang sering dirasa kehilangan selama tinggal di negeri orang. Namun yang mengherankan, beberapa hal terasa berubah. Mungkin memang begitu adanya atau kacamata saya lah yang telah bergeser. Mau tak mau, saya berubah menjadi « mentang mentang, tinggal di luar negeri! » aie!



Tinggal di Paris, manusia banyak, itu pasti. Penduduknya berjumlah 2 juta jiwa minus turis. Namun angka ini menjadi tak berarti bila dibandingkan dengan jumlah penduduk Jakarta yang mencapai 22 juta nyawa padahal luas daerah yang ditempati pun tidak jauh berbeda. Maka tak heran, di Indonesia level penunjang hidup seakan 'tertangani dengan baik', terutama dalam hal service.

DI JALAN
Menyeberang jalan merupakan momen yang menegangkan dalam keseharian di tanah air. Di mata saya motor yang lalu lalang bagai gerombolan lebah yang siap menyerang. Padahal dulu saya adalah bodyguart teman-teman perempuan dan berjalan di sisi kanan setiap kali melintas jalanan.

Saya juga disambut pangilan mesra para tukang ojek. Bosan dengan macet di dalam taksi, saya memang akhirnya balik jadi pelanggan sementara mas ojek. Dan semua berulang seperti berada dalam drama komedi. Pak ojek mencari helm pinjaman dulu, melintas jemuran orang, melalui jalan setapak di dalam kuburan, menyalip kiri kanan dan menakuti orang yang hendak menyebrang. Service tak jarang diberikan dengan melanggar rambu lalu lintas demi mengantarkan saya ke tempat yang hendak di capai. Belum lagi tambahan bonus wanginya helm mereka di kepala. Alamak!

DI SALON
Untuk urusan pelayanan kecantikan. That's the best thing ever! Potong rambut, pijat, creambath, manicure dan pedicure tinggal pilih, harga terjangkau. Ketahuilah, di salon negeri Eropa, anda tak kurang harus membayar berlipat-lipat. Dan juga service macam creambath tidak ada. Pijat biasanya hanya tersedia di tempat khusus yang punya nama khusus pula 'Espece Detendre' alias tempat rileksasi dengan tarif sejamnya sekitar 60-80 euros! Maka agenda pergi ke salon memang merupakan hal yang mutlak bila pulang kampung. Dan saya akan sengaja memesan semua service itu sehingga saya akan dikerubungi orang yang sedang melayani saya. Menjadi ratu dua tiga jam!

DI RESTORAN
Begitu langkah kaki mendekati sebuah restoran, pintu biasanya sudah langsung terbuka. Bukan otomatis tetapi karena ada seseorang yang membukakan pintu. Pelayan banyak dengan moto kerja 'kepuasaan klien adalah yang utama'. Telinga saya serasa harus beradaptasi ulang terhadap kalimat semacam:

« Mbak, Mbak. Minta menunya dong »
semenit kemudian
« Pesen ini itu, NGGAK PAKE LAMA »
15 menit kemudian
« Kok nggak keluar keluar pesenan kami. Nggak LUPA KAN?! »
« Meja samping malah udah duluan dapat. GIMANA SIH! »

Bandingkan dengan di Prancis sini, kita sering harus bersabar menunggu bahkan pernah sampai 30 menit untuk sekedar didatangi pelayan. Bukankah kalimat diatas menjadi baru lagi?

Ingatan saya bolak balik ke masa bulan-bulan pertama saya hidup di Prancis. Duluu, suami saya harus mengusap-usap pundak saya karena muka saya selalu saja menjadi merah padam dan bibir saya sudah mau berteriak. Gimana tidak, pelayan yang jumlahnya sedikit itu lah yang raja. Bukan klien. Kita tidak boleh inisiatif memanggil mereka, sebelum mereka yang menghampiri kita dan berkata 'Bonjour'. Kemudian setiap mau pesan sesuatu, tentunya menunggu mereka menghampiri meja kita, yang artinya bisa sampai berpuluh puluh menit, karena tidak jarang mereka mementingkan membersihkan meja yang kotor dulu agar bisa diduduki lagi. Kata suami saya karena disini tenaga kerja mahal plus pajak.

Pernah juga saya dan teman saya, dipelototi beberapa pengunjung karena lupa menaruh nampan dan membuang sisa makanan ke tong sampah. Gimana tidak, di Indonesia kan pelayan siap membungkuskan sisa makanan kita dengan dalil 'buat anjing di rumah' atau 'sayang masih banyak'


DI TOKO
Gila ya! Sebenarnya konsep pelayanan yang sempurna tuh ya yang ada di Asia. Klien langsung dihampiri, ditawari butuh informasi apa. Begitu memilih juga ada yang menemani. Dan bawaan kita langsung di jinjingi oleh mereka. Serasa seperti raja.

Saya sempat dibikin takjub oleh pelayanan salah satu toko mainan -yg mungkin nggak ada anehnya buat pribadi saya yang dulu – Mainan pilihan yang beratnya nggak lebih dari 500 gr, dibawakan satu mbak yang jaga. Kami berjalan sekitar 2 meter, sampai kemudian ada satu orang yang berkata kepada pelayan tadi

« Sini Mbak, saya bawain » dan mainan pun berpindah tangan.
Saya pikir kasirnya bakalan berada di terminal lain yang jauhnya kayak terminal A ke C di bandara Sukarno Hatta, tetapi ternyata kami sampai setelah melangkah lagi sekitar 3 meter! Haha. Lega hati saya, akhirnya kami sampai ke kasir!

--
Begitulah seterusnya. Kemudian di akhir bulan kedua, saya sudah mulai terbiasa dengan segala pelayanan ini, sampailah saya dan anak saya di bandara Charles de Gaulle, Paris. Saat itu, anak saya kelihatan butuh cemilan, jadi kami mampir dulu ke sebuah Patiserrie. Pelayannya ada dua, yang satu ngobrol dengan salah seorang klien, yang satunya ikut nimbrung. Mereka pasti menyadari kedatangan kami karena hanya kami dan klien itu yang ada disitu. Tapi mereka terus mengobrol, meski saya sudah berkata 'Bonjour' -tidak tahan menunggu ditegur dulu. Akhirnya ketika mereka melayani kami setelah kami bengong selama 5 menit, saya hanya bisa membatin 'WELCOME HOME!'

Monday, April 25, 2011

Midnigth Visit

Ibuku terkesan orangnya tidak perduli. Tapi menurutku dialah orang yang paling tajam indranya pada anak anaknya. aku yakin, sampai akhir hayatnya akan begitu.

¤
Saat aku kelas 5 SD, hanya dari sedikit gerakanku, dia tahu aku mens yang pertama.

Kelas 2 SMP, hanya dari pipiku yang merona dan senyum yang lebih lebar dari biasanya, dia tahu aku punya cinta monyet.

Namun dia hanya sekali menegurku karena menyontek. Itupun di duga hanya dari perilakuku yang cemas setelah pulang ujian.

¤
Kini aku sedang berpandangan mesra dan bibir pacarku sebentar lagi mendarat di bibirku. Kami hanya sendiri di ruang tamu ini. Semua orang sedang pergi. Tanteku menginap ke rumah adiknya untuk berbagi kesedihan atas meninggalnya ibuku 3 minggu lalu.

Tiba-tiba, listrik mati. Gelap. Saat tangan pacarku hendak mengerayangi tubuhku yang sejak tadi sudah takluk, terdengar bunyi keras sekali. Pompa air meraung menstarterkan diri. Pompa yang hanya bekerja bila ada listrik. Aku tersadar, ku jauhkan tubuh pacarku.

Itu pasti ibuku!

Rupanya keyakinanku salah. Dia tidak hanya mengawasi sampai akhir hayat melainkan setelahnya juga. Hanya satu tanyaku: Bagaimana dia bisa tahu pacarku adalah suami orang?