Tuesday, October 19, 2010

LOMBA COVER




















COVER 1 --- COVER 2

Sebuah novel yang menceritakan persahabatan 3 orang wanita perantau dari Indonesia di Abu Dhabi, sebuah kota metropolitan yang berazaskan Syariat Islam. Buku yang dituliskan berdasarkan kejadian nyata, dari kenyataan yang kami lihat dan riset yang kami lakukan.


SINOPSIS


Mirage atau Fatamorgana merupakan sebuah fenomena yang mungkin bisa mewakili sepenggal masa dalam hidupku di suatu negeri yang gemerlap: Abu Dhabi. Kota yang memang memiliki julukan sebagai negeri Fatamorgana. Tiada asap tanpa api berlaku bagi pengambilan ini yang sepertinya tidak diambil secara sembarangan. Fatamorgana dijelaskan sebagai suatu kejadian optik yang biasanya terjadi di tanah lapang yang luas seperti padang pasir. Dan benar, padang pasir yang luas mengelilingi Abu Dhabi. Fatamorgana dikatakan juga terjadi dari pantulan langit yang disampaikan oleh udara panas yang berfungsi sebagai cermin. Kenyataannya, musim panas Abu Dhabi bisa mencapai 49°C. Bila kemudian fenomena yang terjadi di sekitar gurun pasir digambarkan banyak menghasilkan bayangan serupa air atau oasis, apakah gemerlap kota cosmopolitan yang aku lihat itu tidak nyata? Aku - ChloĆ© - bisa katakan itu nyata. Tapi gemerlapnyalah yang fatamorgana, dibalik itu terdapat bayang-bayang gelap, sama seperti koin dua wajah. Di luar cemerlang, dibaliknya berbayang.


Di sana, aku bertemu dengan berbagai kumpulan manusia, penduduk lokal dan berbagai kalangan pendatang seperti aku. Tak mengherankan bila kegemerlapan selalu menjadi daya tarik, laksana madu bagi kumbang. Masing-masing datang dengan harapannya, apakah itu mencari cinta, mengumpulkan materi, atau sekedar melarikan diri dari kehidupan yang tidak menyenangkan sebelumnya. Semua tergoda oleh megahnya gedung-gedung, pesta, padang pasir yang menawan, atau pantai yang indah. Awalnya tidak disadari bahwa semua adalah bayangan semu seperti asal kata fatamorgana yang diambil dari bahasa Italia. Terilhami nama saudari Raja Arthur, Faye le Morgana, seorang peri yang bisa berubah-ubah rupa. Selaras dengan itu, Abu Dhabi juga memiliki rupa gelap yang bernama penyelewengan, penyembahan materi yang berlebihan, aturan tanpa toleransi dan kriminalitas.

Bagaimanapun, begitulah kehidupan. Naik turun, diselingi oleh bayang yang menjadikannya sempurna. Meski yang namanya cobaan tidak pernah mudah dilalui, terutama saat awan gelap menimpa sahabatku tercinta- Entin dan kakak dalam batin - Siti. Siti menjadi korban kriminalitas yang dilakukan oleh orang yang tak terduga. Entin dengan kisah cintanya yang berkerikil tajam. Semua itu bagian dari pelajaran yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Setahun terlewat sudah.

Sunday, October 10, 2010

Chipendale dan Writer's Block

-Mudah untuk menjawab pertanyaan tentang kelebihan yang aku punya: tubuhku yang bagus. Otot ototku tidak sebesar atlet binaraga tetapi bentuknya lebih bagus lain, natural dan selalu berhasil membuat wanita mana saja tak tahan untuk tidak menyentuhnya. Perutku rata dengan kotak kotak sempurna. Belum lagi beberapa bulu halus yang menghiasinya. Semua itu berpadu dalam proporsi yang seimbang. Aku cukup tinggi tetapi tidak sampai menjadi raksasa besar. Orang orang bereaksi berbeda beda dengan kondisiku, ada yang iri, ada yang mencibir tetapi kaum wanita akan terpesona kepadaku, kecuali kalau dia buta.

Untuk wajah, aku akan mengutip banyak kata orang: mukaku ganteng. bla, bla, bla, bla

**
(ampun deh! jijay bajaj! harus dihapus. it's a must!)

**
-Pekerjaan ini adalah anugrah dari surga. Jean Baptise melakukannya dengan sepenuh hati. Setiap penikmat dapat merasakannya dari detik detik yang terbangun saat dia melepaskan satu per satu helai pakaian yang membalut tubuh six pack nya. Dan dia menikmati panasnya suasana ditingkahi teriakan para wanita. Mereka seperti sekumpulan manusia yang diberi pil ekstasi bahagia. Lalu, apa salahnya bila dia bangga menjadi penari telanjang?

**
(Beqqqq. norak. mending dihapus juga kali?)

**
Ide cerita tentang Penari Telanjang Pria ini sudah menancap di kepala saya lebih dari sebulan yang lalu. Tetapi dua diatas adalah awal menulis, yang terus buntu. Tidak ketemu kata selanjutnya, bahkan kata yang sudah ada saja rasanya pengen dihilangkan. Mungkin ini yang sebagian disebut sebagai WRITER'S BLOCK. Dari sebuah buku, gejala ini dianggap normal untuk sebagian besar orang, meski beberapa mengatakan bahwa ini hanya alasan untuk bermalasan. Yang pasti gejala ini ditemukan pada penulis dimana dia kehabisan ide, nggak punya ide atau nggak nemu kata-kata yang cukup bagus untuk ditulis. Sehingga Penulis berhenti menulis. (sejujurnya saya lagi kehilangan kemampuan nulis cerita panjang/novel saat ini. plus tulisan diatas). Penyebab Writer's Block bisa jadi karena target yang terlalu tinggi, takut dicela, kena depresi, pacar punya simpanan lagi, kucing mati kecebur got, menang lotere tapi takut dosa dan lainnya. Dikatakan pula bila ini biasanya hanya SEMENTARA. Hmm.. Sementara?

**
(Sementara bilangnya Writer's Block, sementara berhasil juga bikin postingan ini. Nggak Konsisten namanya *Sibuk-sendiri-sibuk-sendiri).

**
(Sementara sibuk sendiri, kok bisa ngaku ngaku diri sebagai Penulis? heh?! Dasarnya apa? dasarnya apa? wakakakaka)

**
Sementara Penulis lagi sibuk sendiri, Tokoh sedang menghadapi kesulitan dengan celana aksinya yang seharusnya sekali tarik langsung copot. Sementara itu, pada penonton wanita sudah mendelik gemazz.

Saturday, September 18, 2010

Teman Tidur

Dina tersenyum dihadapanku, sambil matanya berbinar menyelidik, dia melontarkan pertanyaan mengenai masa kuliah suaminya. Aku memang dulu mengenyam pendidikan yang sama dengan Bagus, pendamping hidupnya sejak 5 tahun yang lalu. Katanya ini cuma sebuah permainan, sambil menunggu yang lainnya datang. Dia tahu Bagus selalu dikelilingi wanita, terutama bila statistik mahasiswi jauh lebih banyak dari pada mahasiswa. Pembicaraan empat mata pertama kali dengannya.

Aku kenal Dina pertama kali beberapa bulan sebelum pernikahannya. Ke-duakali, aku datang bersama suami dan anakku ke perkawinan mereka. Lalu, aku pindah kota. Kami tidak pernah dekat, meski tiga kali aku pernah menyumbang untuk yayasan sosial yang dipimpinnya. Bagus sepertinya lebih senang begini.

Dina mulai menyebutkan nama.

Sarah. Katanya, seperti dugaanku. Sosok yang diperebutkan banyak pria. Bagus selalu membanggakan hubungan mereka yang hanya terjalin beberapa bulan.

Aku menunggu nama Hanni disebut. Tetapi tidak. Padahal Bagus mencumbunya bertahun tahun. Tidak ada yang tahu, selain aku. Nyatanya sampai saat ini.

Rani? tanyaku. Semua orang tahu bahwa Bagus sempat menghabiskan banyak waktu bersamanya. Rumor menyatakan bahwa mereka sempat bermain api. Dina hanya cemberut.

Orang orang mulai tampak berdatangan. Aku lalu memanfaatkan waktu yang tinggal semenit untuk bertanya tentang siapa yang masih dekat sampai sekarang. Sarah. Lagi. Dia selalu memilih Dina untuk menyelenggarakan kegiatan amal kantornya. "Mantannya donatur yang baik" Katanya mengerling

Gantian, ada rasa yang mengelitik hatiku. Memancing senyum. Miris. Ironis. Sepertinya permainan ini menyisakan satu hal: dia tidak tahu kalau dulu aku pernah jadi teman tidur suaminya. Kepadakulah, kata perjaka pergi dari dirinya.

Tuesday, September 7, 2010

Sendiri Dirundung Sepi

Dahulu, sendiri bukanlah sepi
Dia tak bermakna
Kedatanganmulah yang menyadarkanku
bahwa dua lebih baik dari satu
Kau janjikan kelip bintang yang tak terjangkau mata
Kau kenalkan aroma nafas yang menyempurnakan jiwa

Detik berlalu, bulan berganti
Dan ragamu kembali berkelana
Meninggalkanku di nyata ini
Kini, sendiri tak sama lagi
Sepi
Nelangsa


Maka biarkan aku bertanya
"Mengapa orang se-elok engkau sudi mampir dalam hidupku?"
Bukan hadirmu, Sebentarnyalah yang aku benci
Dan tak tahukah kamu
Hanya dengan bayangmu, aku mati perlahan
Tersobek, Tersayat
Karena Harapan bukanlah sebuah mainan

MUKA PEMBANTU

Berawal dari satu tulisan seseorang di blognya yang membahas tentang teman temannya wanita indonesia yang berpasangan dengan bule, baik pacaran maupun married. Menurutnya, mereka terlihat sok, lupa sama nasionalisme dan hanya mengejar materi. Biarin aja deh dia berpikir begitu. Salahnya sendiri kenapa juga cari temen yang ajaib begitu. Memang ada sih orang orang seperti itu tapi kan nggak semuanya. Kalo sekedar mau cari materi, kenapa juga musti sama bule. Kan nggak semua orang bule kaya. Bule berimage kaya, itu saat di negara yang mata uangnya lebih lemah aja kali. Mending cari jurangan minyak dari Brunei, atau Engkong engkong pemilik perjudian. Kalo urusan sok dan lupa sama nasionalismenya, emang segampang itu menilai nasionalisme seseorang? Lah penulis aja kuliah dan bangga dengan background kerjanya di perusahaan multinational. Jadi pembahasan tentang ini saya anggap selesai saja.



Yang seru yaitu komentar orang orang terhadap tulisan itu. Satu orang langsung deh teriak «iya saya heran kenapa para bule sukanya sama perempuan yang tampangnya kayak Pembantu». Weith!! PEMBANTU! Saya sih langsung menduga yang nulis kemungkinan besar adalah pria yang daerah teritorialnya terganggu. Kucing aja bisa melolong lolong marah kalo kucing tetangga masuk daerah jajahannya kan? Hehe. (tentunya nggak semua pria yang berpikiran sesempit ini). Selain mikir, saya jadi teringat masa lalu. Cie … Kalimat beginikan udah dari jaman dulu kala hidup di kalangan masyarakat. Dan sebagai warga masyarakat, saya sendiri ikut terkontaminasi. Sempat saya minder dulu. Gimana nggak, saya dari SMP udah sering di senyumin bule yang papasan di jalan. Padahal saya nggak senyum duluan lho. Lah masih culun gitu. Berarti saya tampangnya Pembantu sejati dong?



Sebenarnya apasih definisi bertampang Pembantu? Pasti sulit menemukan orang yang bisa menjelaskan dengan gamblang. Ataupun tega mengatakannya... Mungkin juga nggak mudah untuk dirumuskan. Tetapi ada satu komentar yang keliatannya ngelink dengan yang diatas «yang saya sayangkan, mengapa juga perempuan yang cantik banyak juga yang masih mau sama bule». kalau dikaitkan secara paksa, berarti tampang pembantu adalah tampang jelek. Nah kalo jelek lebih gampang tuh. Kita pake definisi lawannya saja yaitu Cantik (karena orang indonesia sungkan menyakiti hati orang lain bukan?) . Ciri ciri cantik dimata orang indonesia : berkulit putih/terang, tinggi semampai, rambut lurus. Jadi Jelek adalah kebalikannya, sehingga ini jadi lebih mudah dijelaskan. Prinsipnya dimana saja sama: orang tidak pernah puas. Orang kulit gelap pingin putih. Orang kulit putih ya sukanya sama yang kulitnya gelap, Asia kalo perlu Afrika. Keriting bukan kekurangan, pendek tidaklah jadi hambatan. Bahkan hidung pesekpun masih mending dari pada yang mancungnya ketinggian. Lagipula, jelek kan relatif, kalau jahat absolut. Jadi masih mending punya tampang pembantu/jelek daripada tampang penjahat.



Lalu, kalau yang dimaksud tampang Pembantu adalah tampang Jelek. Aih aih, kasian amat ya para pembantu. Udah gajinya dikit, kerjanya keras bener, kadang pake dimaki maki masih tega juga dikatain tampangnya jelek! Padahal nggak semua pembantu jelek kan. Ada yang biar kulitnya gelap tapi wajahnya manis. Oleh sebab itu mungkin anda bisa memperingatkan kepada pembantu anda: jangan sampai married sama bule ya, nanti selain statusmu yang pembantu, tampangmu di cap pembantu juga. Pembantu sampai tulang sumsum! Meski siap siap si pembantu bisa aja menjawab: nggak papa deh Bu jadi pembantu sampai tulang sumsum kalo bisa dapat Brad Pitt atau Jude Law :-D



Sebenarnya kalo emang mau adil dan ilmiah, mungkin perlu juga dibuat penelitian tentang definisi ini. Sekaligus si pengkomentar komentar diatas dijadiin responden. Yang dinilai sejejeran perempuan perempuan indonesia: pembantu, bukan pembantu, pacar bule, pacar pribumi. Dengan penampilan yang dibikin setara tentunya. Apakah memang bisa membedakan secara tepat? Soalnya kalo dilihat dari kebalikannya, teman teman saya disini (wanita indonesia istri bule), tampang or penampilannya lain lain. Ada yang kulitnya gelap dan pesek seperti saya, ada yang manis dan cantik, ada yang Cina, dan sebutkanlah segala variasi perempuan indonesia di sekitar anda.

Akhir kata, yang diputuskan yang di Atas kan ada tiga: Hidup, Jodoh dan Mati. Nah artinya urusan jodoh kontrolnya nggak 100% di kita. Mau jungkir balik ngecengin bule, kalo garis nasibnya dapat non bule, mungkin juga kan? Sama aja dengan orang yang santai santai aja tiba tiba dapat bule. Apalagi kalau cinta udah berbicara.. mau tampang pembantu apa nggak ya nggak penting lagi. Bukan begitu bukan... Love Meluwluw...



Jujur deh, ada nggak sih yang pernah berpikir saya tampangnya pembantu? Terus, coba sharing bagi yang ternyata punya definisi kata kata ini secara gamblang. Lucu juga kali :-)

Jasa Peramal Jodoh

Senja masih muda. Matahari baru saja beranjak pergi ke peraduannya. Reni terbaring dengan kaki digoyang gelisah. Tangannya tak henti melinting poninya yang sudah dari tadi kusut. Dia sedang di apartemen Lara, sahabatnya yang sudah dekat sejak 8 tahun lalu, sampai mereka saling memanggil 'teman tua'

« Sudahlah. Nggak usah terlalu dicemaskan » hibur Lara
« Maunya sih. Tapi gue cemas banget nih! Pasti tu bokap gue pake kesempatan ini buat ngocehin gue macam-macam. Mana gue nggak boleh ngomong sama Tante Leni lagi »
« Wah tumben percaya banget sama peramal hehe »
« Ah lo juga kan... Udah sampe mana tuh treatment yang lo jalanin. Gimana, udah belum dimandiin pake air kembang? »
« Sialan lo. Malah ngeledek. Iya sih. Parah tuh Tante Leni. Hidup kita jadi aneh gini. Gue sih udah ngomong sama eyang gue. Katanya minggu depan pas tanggal jawa bagus. Hmm »

Lara sekarang yang giliran mendesah. Sebenarnya mereka berdua bukanlah jenis orang yang dekat dengan dunia paranormal apalagi mempercayainya. Mereka selalu berhasil menolak ajakan teman-teman lajang di kampus maupun di tempat nongkrong, yang sering mengatakan bahwa perempuan yang sudah diatas 30 tahun dan masih jomblo, biasanya memiliki 'dosa' di tubuhnya. Dosa itu harus dibersihkan agar badan tidak 'kotor' dan jodoh jadi mendekat. Mereka berdua hanya menertawakan hal itu. Para paranormal pasti hanya mencari rejeki dari orang orang yang sedang resah oleh desakan lingkungan. Lagipula, kalau jodoh belum datang, apa salahnya jadi jomblo? Toh setiap hal selalu ada sisi positifnya. Paling tidak yang namanya single, punya kebebasan lebih banyak.

Tante Leni di datangi oleh Lara 3 bulan lalu. Lara terjebak teman fitnessnya yang meminta dengan sangat supaya ditemani, dengan alasan tempat Tante ini dekat, sekalian menunggu kelas gym berikutnya. temannya berpromosi, bila kemampuan ramal kartu tante ini menakjubkan. Paling tidak begitu beberapa orang di kantornya bercerita.

Sampai di sana, Lara yang tadinya hanya duduk disamping sahabatnya yang sedang diramal, akhirnya tertarik mencoba garis nasibnya dibaca.

« Kok bisa lo ikutan? » Tanya Reni dua hari setelahnya kepada Lara
« Abis ajaib banget. Itu tante bisa tau kalo sohib gue itu nggak pernah sholat. Nggak akur sama ibunya. Padahal dia belum cerita apa apa. Jadi gue pikir, kenapa nggak sekalian. Toh cuman di baca kartu doang. Lagipula kelihatannya si Tante ini bukan paranormal 'tukang peres'. Nggak ada tuh yang disuruh mandi kembang, kirim bunga ke kuburan atau apakek »
« Hehe. Yah, bikin penasaran juga ye »
« Iye. Nah problemnya, gue pikir gue cuman di suruh sholat kayak temen gue. Kan gampang tuh. Gue kan emang nggak terlalu terikat sama upacara gitu. Mending jalan Islam lah »
« Iye elo gitu lho. Tahun baruan aja malah ke pesantren!  Haha »
« Nah. Ini malah gue disuruh mandi kembang! Gue sekarang lagi mikir berat nih. Gue jalanin apa nggak. Kata si tante, gue musti mendekat sama akar gue. Di keluarga gue ada yang punya kemampuan spiritual lebih. Itulah yang bikin gue kaget! Kan eyang gue benernya sudah nawarin itu ke gue dari lama tapi gue cuekin. Terus, itu tante pembukaannya aja langsung bilang kalo gue berdarah biru! Gila! Gue kan paling anti tuh ketahuan. Jaman modern gini »
« Hah! Lo orang keraton emangnya? »
« hehehehe... iye. Nyokap gue turunan langsung salah satu pangeran di keraton Yogya »
« Hah! Jangan bilang gue lo, kalo lo keturunan yang lingkupnya di dalam lingkaran keraton?! »
« hehe... iya... gelar nyokap gue Raden Ajeng»

Selanjutnya, bisa di tebak. Reni beralih merengek-rengek agar di ajak ke tempat Tante Leni itu. Perasaannya tergelitik. Dia ingin tahu jenis ramalan yang diperuntukkan baginya. Apalagi saat itu sebenarnya dia punya projek: mencoba mendapatkan calon suami dari benua lain, yang kulitnya berwarna putih.

Reni tidak bisa melupakan saat saat itu. Tante Leni memainkan kartunya. Pembukaannya persis sama dengan ringkasan hidupnya. Berbagai pria pergi, yang semuanya Renilah yang memutuskan. Kata Tante mereka memang bukan jodohnya, selalu ada perselisihan yang sangat prinsip. Lanjutan ramalan, semakin membuat Reni terbelalak. Dia sengaja tidak bercerita banyak kepada Tante, tetapi kartunya bisa mengungkap hal yang penting dan pribadi. Dalam hati Reni juga berdebar karena ada ketakutan dia akan disuruh mandi bunga atau sholat. Keduanya bukan hal yang sanggup menarik minatnya.

« Engkau akan berhubungan dengan orang jauh. Dari Sumatra atau mungkin luar negeri » « Hubungan kalian akan pakai surat dan pos »
« Email termasuk kali ya Tante » Ingatannya melayang kepada pacarnya sekarang yang berada di Amerika, ribuan kilometer jauhnya. Hebat nih tante, batinnya. « Bakal lanjut serius nggak Tante? » tanyanya gusar.
« Bisa. Tapi ada satu hambatan. Dalam dirimu »
Dukces! Jantung Reni serasa meloncat. Inilah 'moment of the truth' yang mengarahnya pada sebuah titah yang harus dilakoninya.
« hmm. Kalo aku musti ngapain tante? »
« Kamu punya ganjalan nih, hubunganmu dengan ayahmu penuh amarah. Kamu musti sujud di depannya. Dia duduk, kamu sungkem. Kamu cuci kaki ayahmu dengan air bersih. Nanti airnya kamu minum sedikit dan kamu harus dengarkan apa yang dia katakan. Waktunya harus di tengah malam... Gimana, ngerti nggak? Karena restu orang tua itu hal yang nggak bisa ditawar»
« Hmm... ngerti Tante... eeee.... » Reni hilang kata.
Saat Tante sempat menanyakan mandi kembang bagi Lara, pikiran Reni sudah berkelana kemana-mana. SUNGKEM KEPADA PAPA? Ini jauh lebih parah daripada harus mandi bunga atau pun sholat dan berpuasa.
Papa.... Gumamnya dalam hati

Papa bagi Reni bukan sosok orang tua yang biasa. Sosok orang tuanya yang satu ini sulit didefiniskan olehnya. Disatu waktu ayahnya tampak sayang padanya, di lain waktu perilakunya sering membuat Reni merasa dikhianati. Dia tidak pernah bisa memaafkan saat papanya menjalin affair yang sempat membuat mamanya sakit sakitan. Setelah itu berlalu, ada saja yang dilakukan papanya itu. Judi, Alkohol seperti lupa pada keluarga. Meski sekarang papanya sudah insaf dan menunjukkan itikadnya untuk hidup lurus, Reni tetap tidak bisa berdamai. Tidak pula saat mamanya pergi ke Ilahi, tidak pula sekarang.

Tanpa perlu dibahaspun, kedua orang ini saling tahu bahwa mereka memendam emosi. Reni marah secara tertahan kepada sang ayah. Sang ayah mengetahui tetapi seakan akan tidak tahu bagaimana harus membawanya ke suasana dialog. Dan memang begitulah yang terjadi.

Selama ini Reni selalu menghindari kontak pribadi dengan papanya. Saat mereka bersama di depan televisi atau meja makan, pembicaraan lebih bersifat global macam politik dan ekonomi. Hanya sesekali papanya menasehatinya untuk lebih serius mencari jodoh, karena umurnya sudah 'tinggi'. Tetapi Reni hanya mendengus. Orang ini bukan orang yang tepat untuk menasehatiku lagi, bisik kepada dirinya marah.

Begitulah sifat hubungan mereka selama bertahun-tahun sampai kartu Tante berbicara. Sampai Reni mempercayainya dan takut atas kemungkinan buruk yang terjadi bila tidak dilaksanakannya. Dia mulai mencintai pacar jauhnya dan berharap banyak pada hubungan mereka.

Di hari yang sama dengan pembicaraan gelisahnya dengan Lara. Reni bertanya kepada papanya dengan canggung, tentang kesediaannya menjalankan ritual sungkem ini. Tak dinyana, orang tua itu menyambutnya dengan bersemangat.
« iya. Kenapa tidak?! Nanti kamu siapin aja ya »
Sungguh reaksi yang membuat Reni gelisah berat dan langsung meluncur ke apartemen Lara. Dia sudah membayangkan akan adanya sebuah pidato yang tidak bisa dibantahnya. Dia tidak akan terima bila ada perkataan yang nantinya hanya akan menambah marahnya. Orang tua patriakan itu. Jelas jelas dia akan memanfaatkan situasi ini. Dia pernah bicara kalau orang tua tidak penah salah. Bah. Umpatnya dalam hati

Kembali dari tempat Lara, beberapa jam kemudian, saat senja sudah pergi dan bulan bersinar diatas langit. Tengah malam. Reni menjinjing baskom yang berisi sedikit air Aqua. Sudah disiapkannya sebuah bangku di tengah ruangan, dengan bersungut-sungut. Dia harus mengulang-ulang dua kata 'Harus Rela. Harus Rela'
« Pa. Waktunya » katanya mengetuk kamar
« Iya. Papa sudah siap »
Kemunculan orang tua itu begitu mengagetkannya. Wajahnya tidak hanya segar meski tampak belum tidur tetapi juga cerah. Baru sekali dilihatnya wajah secerah ini yaitu saat dia lulus masuk perguruan tinggi negeri.
« Papa duduk sini ya. Kamu sungkem kapan saja Kamu siap »
Reni pun berlutut. Kepalanya ditundukkannya. Jantungnya berdetak keras, berlomba dengan otaknya yang berkonsentrasi untuk menyuruh mulutnya agar tahan tertutup.
« Saat begini yang Papa tunggu dari dulu. Sebagai anak, kamu memang harus minta restu orang tua. Semoga Kamu mendapat apa yang kamu sedang inginkan. Papa selalu mendukung. Papa juga selalu berharap agar kamu bahagia. » dan berbagai kata kata restu lainnya yang tanpa cacat. Reni tercekat dalam tunduknya. Meski tak ada penjelasan ataupun maaf yang keluar dari mulut manusia dihadapannya, tetapi luapan ketulusan terpancar sempurna. Dia merasakan ketulusan hati ayahnya. Diam-diam matanya berair. Ingatannya melayang disaat dia ditimang, di lempar tinggi tinggi, di belikan mainan. Tak disangka perasaan itu begitu indah dan teduh, mengusir pergi amarah yang terpendam. Membuatnya lupa atas segala tuntutan perilaku ayahnya dulu. Membuatnya tak hirau kalaupun suaminya bukan pacarnya yang ini. Dia merasa sebagai anak yang berbahagia. Teduh. Utuh. Diberkati segala langkahnya. Bukankah itu sudah cukup?

Papa, aku memaafkanmu. Terimakasih teman tua, terimakasih tukang ramal kartu.

Reni pun berangkat ke peraduannya dengan senyum.

Tuesday, August 17, 2010

Gang Menpul, Pembentukan

Suara cempreng seorang pembaca berita infotainment berkumandang keras memenuhi ruangan tengah sebuah rumah. Background televisi ini lah yang menjadi pengalihan perhatian Wuni sesekali dari cecaran sang bapak.

Tidak seperti biasanya, kali ini si bapak banyak bertanya tentang kehidupan pribadinya. Tentang kemungkinannya bersatu kembali dengan mantan tunangan, tentang calon suami yang seharusnya sudah dimilikinya di usia 29 itu, tentang segala kegiatannya. Menurut sang ayah, Wuni terlalu bersikap sulit dan keras terhadap seorang mantan tunangan yang sudah dikencaninya lebih dari 4 tahun. Sang mantan terkesan sedang banyak mendekati keluarganya untuk bisa kembali kepada hatinya yang sudah tertutup rapat.

"Kamu itu nggak keingat sama umurmu ya? kok ini malah selalu teman sama banyak orang. Lebih baik punya teman satu saja, tetapi serius. Mana pergi terus ke luar rumah"
Dan berbagai wejangan yang sangat tidak cocok oleh semangat kebebasan Wuni.

"Aku tuh kan kerjanya lepasan, makanya butuh punya banyak channel. Okelah lain kali, teman aja yang aku kumpulin ke sini"
Jemu Wuni berusaha beranjak pergi.

Tiba tiba telp berdering. Menyelamatkan.

"Mbak buat Mbak nih. Dari Yogya" Kata pembantunya memanggil.

Bapaknya hanya bisa geleng geleng. Dia sudah hapal tabiat anak sulungnya ini. Keras kepala. Meski dalam hal kemandirian tidak ada keraguan sedikitpun. Sebagai orang tua, dia hanya cemas anaknya lupa hal yang seharusnya dipikirkan seorang perempuan seusianya: mengejar jodoh. Akhirnya dia hanya mangut-mangut pura-pura nonton berita dari si cempreng Cut Joget.

Obrolan telepon pun terjadi.
« tgl 30 minggu depan lo ada di rumah nggak? Ada acara nggak ? » Tanya Susan.
« Hmm, kayaknya nggak ada apa apa deh. Kenapa say? Lo mau datang? »
« Iya. Hmm.. sebetulnya gue udah ngundang 20 orang anggota milist Dew. Sebagian besar udah ok. Nah, secara gue tinggal di Yogya sementara para anggota milist yang lain kebanyakan di Jakarta, jadi gue memberitahu mereka kalau acaranya adalah di rumah elo. Itulah kenapa gue nelpon karena gue baru sadar, kalau tinggal elo yang belum gue undang sekalian gue kasih tau. Btw, rumahlo bisa dipake kan? Hehe. Sorrynya gue kelupaan »

Wuni bengong sebentar. Tepatnya 5 detik.

« eh, iya bisa kok. Rumah kosong. Ntar gue suruh pembantu gue masak deh »
« Ok kalo gitu, sampai ketemu minggu depan. Gue bakalan datang sehari sebelumnya ya, naik kereta pagi. »
« Ok deh. Tapi jangan pagi pagi ye, lo kan tau gue bangunnya jam 8 »
« yah, jam 6 gimana dong? »
« Ya udah lo langsung masuk kamar aja, INGAT! jangan sampe gue bangun, lo langsung ikut tidur »
« ok deh. Cu »

Klik

Wuni membatin 'Dasar orang aneh'. Dia lupa kalau komplainannya ini pernah ditanggapi oleh temannya Pepi sebagai 'Bebek cari Bebek'

"Siapa Nduk?" tanya sang Bapak.
"Susan. Mau datang. bawa teman teman sekalian. ok kan? aku bilang kan tadi kalo mulai sekarang, aku kurangi pergi, dan ajak teman ke sini. ok kan?"
Bapaknya bingung harus menanggapi apa. Sepertinya anaknya salah arah atas pembicaraan mereka sebelumnya.
"Sekarang aku mau selesaiin laporan ya diatas"
Wuni langsung ngibrit menghindar.


**

Hari H, jam 7 malam.

Rumah berwarna warni itu tampak natural. Seadanya, sehawa dengan karakter orang orang yang tinggal di dalamnya. Letak mebel yang jumlahnya tidak seberapa di tempatnya. Makanan di jejerkan tanpa mengubah hiasan seperti tumpukan koran yang ada diatas meja. Karpet lumayan bersih setelah di kebut oleh sapu lidi, karena vacum cleaner sudah lama rusak. Kondisi ruang tengah persis seperti prinsip yang dijunjung tinggi para penghuninya, buktinya tergantung di salah satu poster yang dibingkai serius

'Home Should be Clean Enough to be Healty and Dirty Enough to be Happy'

Ting tong.
« Hallo saya Makapagal, pangilan Mang Jajang » masuklah seorang tamu dengan dandanan banci tampil. Rambut dibikin jemprik jeprik berdiri hasil kreasi gel lumayan kuat untuk melawan tekanan helm motor. T shirtnya bertuliskan 'I'm Cool!' dipadu dengan celana ketat kotak kotak. Tak lupa lehernya dihiasi oleh shall ala Muamar Kadafi. Setelah ngobrol selanjutnya, Wuni baru tahu kalo orang ini adalah salah satu keajaiban dunia pegawai negeri sipil di kantor Pajak.
Ting tong
« Benar ini tempat pestanya Susan? Saya Budiati, pangil saja Dear Lola » masuklah seorang perempuan pake highheel, apik, modis, dan auranya supel. Setelah ngobrol selanjutnya, Wuni tahu cewek ini banyak yang naksir karena daya tariknya yang cerdas di dunia maya. Dua korbannya, masuk kemudian.
Ting tong
« Susan ada? Saya Gunarto. Pangilan Wasir » masuklah seorang pria sederhana tapi formil. Tampangnya agak beda dari yang dua orang tadi, kali ini sirep jawa memancar kuat. Setelah ngobrol selanjutnya, Wuni tahu pria ini isi otaknya hanya bisnis dan bisnis. Niat mulianya adalah memanfaatkan potensi orang orang yang ada disekitar, termasuk teman temannya yang menurutnya sia sia. Dialah satu satu korban yang kepincut dengan Dear Lola. Tapi Dear Lola nggak tertarik dengan Dear Wasir. Dan entah pake sirep apa sehingga sirep jawanya nggak mempan, Dear Wasir tetap senang berteman dengan Dear Lola
Ting tong
« Hmm. Yesus nggak lagi mampir ke sini kan? Nama gue Dimitri. Panggil gue … Kalo masih punya pertanyaan tentang gue, tanya aja orang orang, semua kenal gue kok. Tapi gue belum tentu kenal mereka » cerocos seorang yang tampangnya bisa mengalahkan You-Know-Who nya di cerita Harry Porter. Meski bukan itu yang membuat Wuni terkesima, tapi penutupan kalimat itu dibarengi oleh gerakan tangan yang seperti mau menembak! Beda sama koboi, cowok ini tubuhnya setipis papan gilesan, disempangi tas gantung, baju kemeja bermotif hawai dan celana kombor gaya 60an. Senyumannya yang menyeringai tapi pede balapan lebarnya dengan kacamata yang jaraknya cuman 2 cm dari tatanan rambut berminyaknya. Nggak perlu ngobrol, Wuni tahu kalau ini orang paling aneh abad 20 yang merupakan korban kedua Dear Lola.

Deretan tamu itu membuat Wuni tertarik. Semuanya tampak unik dan bervariasi, hanya satu kesamaan mereka: begitu masuk detik detik pertama tampak kaget. Semula ia menduga ini karena mereka terpesona dengan gaya rambut lintingnya yang mirip rasta. Rumus gaya ini memang selalu sukses. Teringat ketika dia masuk kampusnya tempat dia mengejar gelar master. Semua murid lain meliriknya heran. Wuni merasa keren. Tetapi sayangnya kemudian dia sadar kalau itu pemikiran keliru dan memanggil Susan.

"San!!! Lo yang bukain pintu dong. Orang orang pada bengong nggak kenal muka gue, dikirain nyasar kali mereka!"

Kemudian, berdatangan sisa undangan yang kalau ditotal pas 19 orang. Namun dari semuanya, hanya 3 lagi yang tercatat diingatan Wuni

"Ini kenalin. Andri. Pengacara handal" Kata Susan mengenalkan seorang pria kekar bertampang garang sedang tersenyum memamerkan deretan giginya yang putih. Yang menarik selanjutnya adalah hobinya cuci piring dan bersih bersih.
"Ini namanya Forti. mahasiswi, tamu paling muda" yang disambut Dimitri dengan gaya menggangkat kacamata sambil berkata "aih, sini duduk deket Om"
"Ini Anahaj. Menado" bisa dikatakan tamu inilah yang paling terlihat kalem diantara yang lain.

Malam itu kemudian berlanjut dengan perebutan ayam bakar yang matangnya satu per satu, sehingga meski baru pertama kali bertemu, mereka tidak segan bertarung secara terbuka. Suasana rumah itu begitu hingar binar, penuh keceriaan. Sama sekali hilang kesan bahwa itu merupakan pertemuan pertama. Semuanya tanpa ragu menunjukkan muka aslinya. Muka nggak tahu malu.

Gerombolan manusia yang menarik, batin Wuni.


**

Hari H, jam 5 pagi.

Loteng rumah berwarna warni tersebut masih dipenuhi oleh 6 orang yang tersisa. Letaknya di lantai tiga yang lebar, terbuka untuk menatap langit. Sebenarnya bila siang hari, gambaran loteng itu tidak lebih sebagai lantai dari gedung yang pembangunannya terhenti akibat krisis ekonomi. Tempat untuk duduk dan tiduran hanyalah sebuah bale bambu yang besar, tanaman yang ada lebih banyak merupakan tanaman liar. Tetapi banyak teman teman Wuni menyukai tempat itu, cocok sebagai pelarian dari kota Jakarta yang sumpek. Terutama dikala malam menjelang pagi, langitnya yang indah menyajikan pemandangan yang keindahannya membuat lukisan terkenal pun tekuk lutut.

Pengunjung yang masih bertahan ternyata justru mereka yang pertama tama datang. Kesamaan status yang sungguh kebetulan: single dan semuanya tinggal di rumah kos sehingga hilang 3 hari pun tidak ada yang mencari. Kumpulan orang orang ini membuktikan kebenaran istilah Bebek Cari Bebek.

8 bebek sibuk berebutan bergaya untuk foto. Momen yang membuat mereka saling menemukan satu persamaan prinsip lain yang lebih mendasar: Brutal, Lugas dan mudah terbuka.

"Eh lo jangan menguasai kamera dong!!!" Protes Lola pada Wasir yang membuatnya hanya terlihat setengah muka saja.
"Bukan ghue lagi, tuh liat si Andry yang badannya segede artis binaraga nutupin gue juga"
"Enak aja lo! Kalo ngomong mikir dong! Gue emang badannya segini. Itu tuh si Jajang yang tangannya nutupin kita semua!" Kata Andry sambil nunjuk Jajang yang sedang bergaya macam Superman terbang.
"Lho kok jadi gue sih? Kenapa begituww? Kenapa begithuww? kalian cuma iri sajah sama gayah sayah" Sahutnya centil nggak mau ngerubah gaya.
"Haha. Ancur ancur banget sih! Cepetan tuh fix gimana, lampu kameranya udah kedap kedip, bentar lagi ngeklik" Teriak Wuni berusaha menenangkan gerombolan yang tambah nggak punya urat malu dan semuanya banci foto.
"Iya nih. Eh, mana si Dimitri?" Celetuk Susan Kalem.

Tersadar satu orang menghilang, para bebek saling lihat lihatan.. Tiba tiba muncul seorang pria ceking,kali ini kemeja hawainya tidak terlihat lagi
"Gue belum terlambat kan?! Pas dong ya Timing gue" Kata sosok Who Know Who yang kali ini penampilannya tambah ajaib. Dia pakai kemeja motif macan
"Macan kan gue... Cocoknya gue disini nih" Katanya ngeluyur tanpa dosa menutupi Jajang yang gaya Supermannya mendadak menjadi basi. Semua hanya bengong.
"Kok pada bengong sih?... Senyum dong! Gue emang sengaja bawa beberapa kostum. Antisipasi! Cheers!"

Klik

Akhirnya di foto itu, sebagian besar adalah muka Dimitri dengan latar belakang orang orang yang gayanya kaku dengan muka bengong. Kontras dengan pemandangan sunrise yang luar biasa indah

Huahahahaha! Serentak ketawa meledak keudara
"Juara gila lo!!!! " Akhirnya Jajang memecah kesunyian. Wuni maju memberi selamat pada Dimtri. Diikuti yang lain

"Wah sepertinya kegiatan serba berguna gini harus dilakukan sering sering nih" Kata Susan senang
"Setuju" Sambutan Wuni dan yang lainnya

Hari itu resmi sebuah Gang berdiri. Kelak mereka menyebut dirinya Gang Menpul atau terkadang Gang Katana. Tergantung dalam konteks apa. Yang pasti Wuni bahagia. Dia merasa menemukan segerombolan yang cocok untuk diangkutnya ke dalam rumah. Entah perasaan bapaknya. Urusan belakangan, batinnya riang.